ESAI: Bahasa dan sastra, jalan sunyi menuju kebangkitan kemanusiaan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 27 Oktober 2025 | 05:12 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Padahal bangsa besar tidak dibangun oleh mereka yang hanya bisa mengerjakan soal, tetapi oleh mereka yang berani bertanya, menulis, dan membayangkan dunia masa depan.

Saya percaya bahwa menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa adalah membangun masa depan bangsa.

Bahasa adalah rumah tempat imajinasi berpulang. Dari bahasa lahir ide, dari ide lahir karya, dan dari karya lahir peradaban.

Bahasa Indonesia, dalam hal ini, bukan hanya alat komunikasi nasional, tetapi medium penciptaan identitas. Ia mampu menjadi wadah bagi ekspresi global sekaligus penjaga akar budaya lokal.

Baca Juga: Mahfud MD soroti dominasi pihak China di proyek Whoosh: Saham Indonesia 60 persen, tapi jabatan strategis dikuasai ekspatriat

Maka, mencintai bahasa Indonesia berarti menolak menjadi bangsa yang tercerabut dari dirinya sendiri.

Namun pertanyaan penting muncul, bagaimana kita menjaga bahasa dan sastra di tengah arus globalisasi yang serba instan?

Saya kira jawabannya bukan dengan menolak teknologi, tetapi dengan mengisinya dengan makna. Media sosial bisa menjadi ruang sastra baru, platform digital bisa menjadi panggung puisi modern.

Di era ini, kata-kata tak lagi hanya terbit di kertas, mereka juga hidup di layar, di video, di suara. Yang dibutuhkan hanyalah kesadaran baru bahwa dimanapun manusia berkata, disanalah bahasa bisa tumbuh, dan di sanalah sastra bisa bersemi.

Baca Juga: Gerakan edukasi halal UMKM dorong pemuda dan pelaku usaha Subang jadi pendamping produk halal

Kita tidak boleh lagi melihat sastra sebagai pelengkap, tetapi sebagai inti kebudayaan. Sebab hanya bangsa yang mencintai bahasanya yang mampu memahami dirinya.

Dan hanya bangsa yang mampu memahami dirinya yang dapat melahirkan peradaban yang humanis.

Generasi kreatif bukanlah mereka yang sekadar mahir membuat konten, tetapi mereka yang mampu merangkai makna, yang menulis bukan karena ingin terkenal, tetapi karena ingin menghidupkan kesadaran.

Pada akhirnya, saya teringat ucapan filsuf Friedrich Nietzsche: “Tanpa musik, hidup akan menjadi kesalahan.” Maka saya tambahkan, tanpa bahasa dan sastra, hidup akan kehilangan maknanya.

Baca Juga: Motoran ke desa, gaya kepemimpinan Kang Rey yang dekat dengan warga Cisalak

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X