Padahal bangsa besar tidak dibangun oleh mereka yang hanya bisa mengerjakan soal, tetapi oleh mereka yang berani bertanya, menulis, dan membayangkan dunia masa depan.
Saya percaya bahwa menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa adalah membangun masa depan bangsa.
Bahasa adalah rumah tempat imajinasi berpulang. Dari bahasa lahir ide, dari ide lahir karya, dan dari karya lahir peradaban.
Bahasa Indonesia, dalam hal ini, bukan hanya alat komunikasi nasional, tetapi medium penciptaan identitas. Ia mampu menjadi wadah bagi ekspresi global sekaligus penjaga akar budaya lokal.
Maka, mencintai bahasa Indonesia berarti menolak menjadi bangsa yang tercerabut dari dirinya sendiri.
Namun pertanyaan penting muncul, bagaimana kita menjaga bahasa dan sastra di tengah arus globalisasi yang serba instan?
Saya kira jawabannya bukan dengan menolak teknologi, tetapi dengan mengisinya dengan makna. Media sosial bisa menjadi ruang sastra baru, platform digital bisa menjadi panggung puisi modern.
Di era ini, kata-kata tak lagi hanya terbit di kertas, mereka juga hidup di layar, di video, di suara. Yang dibutuhkan hanyalah kesadaran baru bahwa dimanapun manusia berkata, disanalah bahasa bisa tumbuh, dan di sanalah sastra bisa bersemi.
Baca Juga: Gerakan edukasi halal UMKM dorong pemuda dan pelaku usaha Subang jadi pendamping produk halal
Kita tidak boleh lagi melihat sastra sebagai pelengkap, tetapi sebagai inti kebudayaan. Sebab hanya bangsa yang mencintai bahasanya yang mampu memahami dirinya.
Dan hanya bangsa yang mampu memahami dirinya yang dapat melahirkan peradaban yang humanis.
Generasi kreatif bukanlah mereka yang sekadar mahir membuat konten, tetapi mereka yang mampu merangkai makna, yang menulis bukan karena ingin terkenal, tetapi karena ingin menghidupkan kesadaran.
Pada akhirnya, saya teringat ucapan filsuf Friedrich Nietzsche: “Tanpa musik, hidup akan menjadi kesalahan.” Maka saya tambahkan, tanpa bahasa dan sastra, hidup akan kehilangan maknanya.
Baca Juga: Motoran ke desa, gaya kepemimpinan Kang Rey yang dekat dengan warga Cisalak
Artikel Terkait
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
ESAI : Menyoal sastra masuk kurikulum
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Membedah anatomi kauniyah, geomorfologi sastra, semiotika, dan filsafat fluiditas
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa