ESAI: Paus Leo XIV dan harapan perdamaian untuk Gaza

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 25 Mei 2025 | 13:22 WIB
Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia
Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia

Terpilihnya Kardinal Robert Francis Prevost (69 tahun) sebagai kepala Gereja Katolik sekaligus pemimpin Negara Kota Vatikan (8 Mei 2025) menjadi momentum penting bagi dunia yang sedang diwarnai konflik, ketidakpastian, bahkan krisis kemanusiaan.

Dunia menyaksikan bagaimana penderitaan rakyat Gaza terus berlangsung tanpa kepastian solusi yang adil.

Dalam situasi ini, sosok Paus baru dengan nama kepausan Paus Leo XIV tersebut membawa harapan besar akan suara moral yang tegas, jujur, dan berpihak pada kemanusiaan universal.

Baca Juga: PSG raih dua trofi domestik, bidik treble winner di final Liga Champions

Paus Leo XIV menggantikan Paus Fransiskus yang selama masa kepemimpinannya dikenal gigih menyuarakan keadilan, terutama bagi mereka yang terpinggirkan.

Paus Fransiskus pernah mengkritik keras rencana Presiden Donald Trump yang hendak membangun tembok perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko. Ia dengan jelas menyuarakan bahwa pentingnya 'membangun jembatan, bukan tembok'.

Ia juga menyerukan keadilan, perdamaian, penghentian perang, bahkan secara praktis menjadikan kendaraan kepausannya sebagai ‘popemobile’, yakni klinik keliling bagi anak-anak di Gaza.

Visi ini kiranya tetap relevan dan perlu dilanjutkan oleh Paus Leo XIV, khususnya dalam konteks Gaza yang memerlukan lebih banyak jembatan empati, keadilan, dan gerak cepat menghentikan genosida.

Baca Juga: Simon Tahamata resmi jadi kepala pemandu bakat Timnas, ini 3 faktanya

Secara pribadi, Paus Leo dikenal sebagai sosok yang pekerja keras, moderat, serta memiliki kepribadian yang ceria dan penuh selera humor.

Citra ini memberi harapan akan gaya kepemimpinan yang terbuka, dialogis, dan menyentuh hati banyak kalangan, termasuk mereka yang bukan penganut Katolik.

Ketika dari balkon Basilika Santo Petrus ia menyampaikan salam 'damai sejahtera bagimu,' pesan itu terasa kuat sebagai seruan universal di tengah dunia yang dilanda kekerasan dan ketegangan geopolitik.

Dalam konteks diplomasi keagamaan, Vatikan memiliki posisi strategis untuk menjadi jembatan dialog lintas agama dan bangsa. Setidaknya ada lima langkah penting yang dapat diperkuat Paus Leo XIV.

Baca Juga: Najwa Shihab ungkap keikhlasan ditinggal suami dan putri tercinta, pernah minta nasihat ke sang ayah

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X