ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 10 Mei 2025 | 15:35 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Baca Juga: Cerita kocak Vidi Aldiano, ‘Duta Persahabatan’ yang hampir skip pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier karena merasa tidak diundang

Maka, kerja-kerja politik sejati adalah kerja-kerja membangun peradaban. Ia bukan sekadar kontestasi kursi atau kekuasaan. Ia adalah kerja membangun nilai, budaya, martabat, dan cita-cita bersama.

Dalam dunia yang semakin gaduh oleh pragmatisme, kita mesti menengok kembali bahwa bangsa ini dibangun tidak oleh politisi semata, tapi oleh penyair, guru, aktivis, dan anak muda yang percaya pada kata-kata.

Kini, di zaman pasca-reformasi, saat narasi politik sering kehilangan makna, kita diajak kembali menyadari: peradaban dimulai dari kata, dari puisi yang jujur, dari mimpi yang ditulis dengan darah dan air mata.

Jangan remehkan puisi. Jangan sepelekan kerja sunyi menulis. Karena dari situlah bangsa ini pernah berdiri tegak.

Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X