Maka, kerja-kerja politik sejati adalah kerja-kerja membangun peradaban. Ia bukan sekadar kontestasi kursi atau kekuasaan. Ia adalah kerja membangun nilai, budaya, martabat, dan cita-cita bersama.
Dalam dunia yang semakin gaduh oleh pragmatisme, kita mesti menengok kembali bahwa bangsa ini dibangun tidak oleh politisi semata, tapi oleh penyair, guru, aktivis, dan anak muda yang percaya pada kata-kata.
Kini, di zaman pasca-reformasi, saat narasi politik sering kehilangan makna, kita diajak kembali menyadari: peradaban dimulai dari kata, dari puisi yang jujur, dari mimpi yang ditulis dengan darah dan air mata.
Jangan remehkan puisi. Jangan sepelekan kerja sunyi menulis. Karena dari situlah bangsa ini pernah berdiri tegak.
Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI
Artikel Terkait
7 Puisi Chairil Anwar, si 'Binatang Jalang' dan juga pelopor angkatan 45
10 Puisi karya Sapardi Djoko Damono, salah satunya 'Yang fana adalah waktu'
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie
ESAI: Jurus melenyapkan jejak Chairil Anwar
ESAI: Sapardi, abu dan sedikit masokisme metaforis
Soe Hok Gie dan relevansi gerakan mahasiswa hari ini
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer