Dan H. Agus Salim, si 'Tuan yang lucu' dan tajam, mengubah hidupnya menjadi arena dakwah intelektual. Ia miskin harta, tapi kaya makna. Ia bukan hanya diplomat, tapi guru bangsa.
Ia menunjukkan bahwa hidup bisa menjadi jembatan antara zaman, antara ide dan realitas, antara kata dan tindakan.
Apa yang kita pelajari dari mereka adalah satu: bahwa hidup tak pernah sekadar tentang diri sendiri. Hidup adalah upaya terus-menerus untuk menyulam makna di tengah keterbatasan.
Hidup adalah kesediaan untuk menjadi cahaya meski kecil, selama mampu menuntun langkah orang lain keluar dari gelap.
Baca Juga: Polsek Patokbeusi gerebek lokasi sabung ayam, satu orang diamankan
Kita mungkin tak seagung para tokoh itu. Tapi kita bisa belajar menjadi bagian dari mereka—dengan menjalani hidup secara utuh, sadar, dan berani menolak hidup yang kosong.
Karena sejatinya, hidup yang berarti bukan soal berapa lama kita hidup, tapi berapa banyak kita menghidupkan.
Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI Jakarta
Artikel Terkait
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Zaman Peralihan, merenung karya Soe Hok Gie dalam gelombang perubahan
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie
Puisi-puisi pilihan Soe Hok Gie: Suara sunyi yang tak pernah padam
Soe Hok Gie: 7 Kutipan yang harus diingat pemuda hari ini
Soe Hok Gie dan relevansi gerakan mahasiswa hari ini
ESAI : Pendidikan itu membebaskan, bukan menindas