Ada yang hidup hanya untuk bernapas, ada pula yang bernapas untuk menyalakan lentera bagi sesamanya.
Ada yang hadir sebagai angka dalam statistik, ada pula yang menjejak sebagai cerita dalam sejarah.
Di dunia yang kian riuh oleh ambisi, terkadang kita lupa bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi memberi makna.
Kita mudah terjebak dalam rutinitas yang membius, melupakan bahwa keberadaan ini bukan sekadar untuk bertahan, tetapi untuk mencipta perubahan.
Soe Hok Gie pernah menulis, "Lebih baik mati sebagai idealis daripada hidup sebagai pengecut." Gie mengajarkan bahwa usia muda bukan alasan untuk bungkam.
Dalam sunyi puncak Semeru, dalam tulisan-tulisan tajamnya di harian kampus, ia menjadikan hidup sebagai perlawanan terhadap kebekuan nurani.
Gie tidak panjang umur, tapi pikirannya panjang langkah. Ia hidup tidak lama, tapi sangat dalam.
Begitu pula Soekarno. Ia berkata, “Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan.”
Bagi Bung Karno, hidup adalah mimpi besar yang diperjuangkan habis-habisan. Ia bukan hanya hidup sebagai manusia biasa, tapi sebagai arsitek bangsa.
Ia membuktikan bahwa kata-kata bisa menggerakkan, bahwa visi bisa menghidupkan ruh sebuah negeri.
Sutan Sjahrir, dalam keheningan buku dan kesendirian diplomasi, mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu lewat pekikan, tetapi lewat prinsip dan kecerdasan.
Ia bukan hanya melawan penjajahan, tetapi juga melawan kebodohan dan kesewenang-wenangan, dengan elegansi seorang pemikir.
Artikel Terkait
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Zaman Peralihan, merenung karya Soe Hok Gie dalam gelombang perubahan
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie
Puisi-puisi pilihan Soe Hok Gie: Suara sunyi yang tak pernah padam
Soe Hok Gie: 7 Kutipan yang harus diingat pemuda hari ini
Soe Hok Gie dan relevansi gerakan mahasiswa hari ini
ESAI : Pendidikan itu membebaskan, bukan menindas