ESAI: Hidup yang tak sekadar hidup

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 3 Mei 2025 | 20:22 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Ada yang hidup hanya untuk bernapas, ada pula yang bernapas untuk menyalakan lentera bagi sesamanya.

Ada yang hadir sebagai angka dalam statistik, ada pula yang menjejak sebagai cerita dalam sejarah.

Di dunia yang kian riuh oleh ambisi, terkadang kita lupa bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi memberi makna.

Kita mudah terjebak dalam rutinitas yang membius, melupakan bahwa keberadaan ini bukan sekadar untuk bertahan, tetapi untuk mencipta perubahan.

Baca Juga: Wapres Gibran umumkan AI bakal jadi kurikulum baru di sekolah, pembelajaran siap dimulai di tahun ajaran baru

Soe Hok Gie pernah menulis, "Lebih baik mati sebagai idealis daripada hidup sebagai pengecut." Gie mengajarkan bahwa usia muda bukan alasan untuk bungkam.

Dalam sunyi puncak Semeru, dalam tulisan-tulisan tajamnya di harian kampus, ia menjadikan hidup sebagai perlawanan terhadap kebekuan nurani.

Gie tidak panjang umur, tapi pikirannya panjang langkah. Ia hidup tidak lama, tapi sangat dalam.

Begitu pula Soekarno. Ia berkata, “Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan.”

Baca Juga: Respon KPK terkait dukungan RUU Perampasan Aset dari Presiden Prabowo saat pidato Hari Buruh: Agar pemberantasan korupsi lebih efektif

Bagi Bung Karno, hidup adalah mimpi besar yang diperjuangkan habis-habisan. Ia bukan hanya hidup sebagai manusia biasa, tapi sebagai arsitek bangsa.

Ia membuktikan bahwa kata-kata bisa menggerakkan, bahwa visi bisa menghidupkan ruh sebuah negeri.

Sutan Sjahrir, dalam keheningan buku dan kesendirian diplomasi, mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu lewat pekikan, tetapi lewat prinsip dan kecerdasan.

Ia bukan hanya melawan penjajahan, tetapi juga melawan kebodohan dan kesewenang-wenangan, dengan elegansi seorang pemikir.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X