ESAI: Orangtua juga bisa durhaka pada anaknya

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 16 April 2025 | 12:03 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Dalam dunia yang dibentuk oleh kesalingterhubungan antara cinta dan harapan, ada satu medan sunyi yang jarang disusuri: relasi antara orangtua dan anak setelah sang anak menikah.

Ruang ini—yang tampak tenang di permukaan—menyimpan riuh batin yang lebih keras daripada doa-doa yang tak pernah dikabulkan.

Kita terbiasa membicarakan bakti anak kepada orangtua, tetapi terlalu sedikit ruang yang disediakan untuk menyoal sebaliknya: apakah orangtua sungguh-sungguh ikhlas kepada anaknya?

Ikhlas. Kata yang sering diulang, namun hampir selalu dikerdilkan dalam praksis keseharian. Dalam tradisi sufistik, ikhlas bukan sekadar melepas.

Baca Juga: ESAI: Menakar penggunaan gawai atau kembali kepada sistem pembelajaran lama

Ia adalah kenisbian ego, lenyapnya 'aku' dalam pusaran cinta ilahiah yang tak memerlukan balasan.

Al-Junayd al-Baghdadi pernah berkata, "al-ikhlāṣ sirrun baina Allāh wa bayn al-‘abd lā ya'lamu mala kun fayaktubuh wa lā shayṭānun yufsidu wa lā hawā fayamīluh"

“Ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya; tidak diketahui oleh malaikat untuk ditulis, tidak diketahui oleh setan untuk dirusak, dan tidak diketahui oleh hawa nafsu untuk dimiringkan.”

Tetapi mengapa, ketika anak tak pulang, orangtua merasa ditinggalkan? Ketika anak tak mengabari, lahirlah ratapan. Ketika anak tak mentransfer uang bulanan, terucap doa-doa buruk yang menjelma kutukan.

Baca Juga: Kata Walid soal serial bidaah yang viral di berbagai negara karena adegan yang berani

Tidakkah ini menandakan bahwa keikhlasan itu telah bersyarat, bahwa cinta itu telah ternodai oleh keinginan untuk diingat, diberi, dibalas?

Di sinilah letak kegagalan kita dalam memaknai peran sebagai orangtua. Peran yang mestinya berakhir bukan karena anak tak lagi mencinta, melainkan karena cinta itu telah dewasa.

Tapi kita, dalam keterikatan yang emosional dan spiritual, kerap menjadikan anak sebagai perpanjangan dari eksistensi diri.

Anak menjadi artefak identitas, bukan makhluk merdeka yang Tuhan ciptakan untuk berlayar atas takdirnya sendiri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X