Martin Buber dalam konsep relasional 'I and Thou' menyebut bahwa hubungan sejati adalah ketika dua pribadi saling hadir tanpa ingin memiliki.
Kita mencintai bukan karena ingin dikembalikan, tapi karena keberadaan 'yang lain' membuat kita lebih manusia.
Namun, orangtua di zaman modern masih kerap menganggap anak sebagai 'utang yang harus dibayar', bukan sebagai 'amanah yang mesti dilepas'.
Barangkali, kita perlu merenungkan kembali kisah Malin Kundang. Narasi ini terlalu lama dibekukan sebagai dongeng moral tentang anak durhaka.
Tetapi siapa yang menyoal luka dan kesepian sang ibu? Atau lebih jauh, siapa yang berani bertanya: apakah kutukan itu lahir dari kasih atau dari kecewa?
Jika memang benar cinta itu sabar dan tidak menuntut balas, mengapa ibu Malin tak hanya menangis, mengapa ia harus mengutuk?
Mungkin, karena ibu Malin—seperti banyak dari kita—tak benar-benar ikhlas. Ia berharap dikenang. Dikenali. Dirawat. Dan ketika harapan itu hancur, maka luka itu memanggil ego untuk membalas.
Di sinilah sesungguhnya tragedi itu lahir: bukan pada anak yang melupakan, tetapi pada cinta yang menolak pergi. Pada kasih yang bersyarat. Pada doa yang menjelma racun karena tak terpenuhi harapan manusiawinya.
Ibn ‘Aṭā’illāh al-Sakandarī dalam al-Ḥikam menulis, “Man ‘arafa mā qadrahu istarāḥa min tadbīrih”—“Barang siapa mengenal kadar dirinya, maka ia akan tenang dari ambisi pengaturannya sendiri.”
Ini adalah pelajaran tentang penerimaan. Bahwa anak adalah titipan yang tak pernah menjadi milik kita sepenuhnya.
Bahwa membesarkan anak tidak serta merta menjadikan mereka tempat menggantungkan masa depan kita.
Dan betapa seringnya, orangtua menciptakan realitas yang timpang bagi anak-anaknya. Sebagian berharap anak menjadi sukses agar bisa membayar pengorbanan orangtua.
Artikel Terkait
Bagi orang tua, ini 7 tips menanamkan bakat menulis cerpen pada anak
Orang tua perlu tahu, ini 8 tips agar anak menyukai pembelajaran di museum
Prihatin bullying, SMPN 1 Kasomalang deklarasi anti bullying yang dihadiri ratusan orang tua siswa, guru dan komite sekolah, ini 3 hal yang disepakati
Ketika seorang ayah tega tinggalkan anaknya di RS Grogol, ada pilu yang dirasakan pria di Bali ini soal kasus bayi yang ditelantarkan orang tua
Prabowo beberkan curhatan orang tua siswa yang berharap pada MBG saat rapat kabinet: Saya bilang mohon bersabar
ESAI: Jurnalis bukan musuh, tapi pilar demokrasi
ESAI: Sapardi, abu dan sedikit masokisme metaforis