ESAI: Orangtua juga bisa durhaka pada anaknya

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 16 April 2025 | 12:03 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: Kilas balik momen Titiek Puspa ketemu Jokowi, seniman yang kini wafat itu pernah ingatkan soal budi pekerti

Martin Buber dalam konsep relasional 'I and Thou' menyebut bahwa hubungan sejati adalah ketika dua pribadi saling hadir tanpa ingin memiliki.

Kita mencintai bukan karena ingin dikembalikan, tapi karena keberadaan 'yang lain' membuat kita lebih manusia.

Namun, orangtua di zaman modern masih kerap menganggap anak sebagai 'utang yang harus dibayar', bukan sebagai 'amanah yang mesti dilepas'.

Barangkali, kita perlu merenungkan kembali kisah Malin Kundang. Narasi ini terlalu lama dibekukan sebagai dongeng moral tentang anak durhaka.

Baca Juga: Pemeran Walid akui soal tokohnya yang viral dalam serial bidaah, bongkar tentang adegan ‘menantang’ yang dilakukannya

Tetapi siapa yang menyoal luka dan kesepian sang ibu? Atau lebih jauh, siapa yang berani bertanya: apakah kutukan itu lahir dari kasih atau dari kecewa?

Jika memang benar cinta itu sabar dan tidak menuntut balas, mengapa ibu Malin tak hanya menangis, mengapa ia harus mengutuk?

Mungkin, karena ibu Malin—seperti banyak dari kita—tak benar-benar ikhlas. Ia berharap dikenang. Dikenali. Dirawat. Dan ketika harapan itu hancur, maka luka itu memanggil ego untuk membalas.

Di sinilah sesungguhnya tragedi itu lahir: bukan pada anak yang melupakan, tetapi pada cinta yang menolak pergi. Pada kasih yang bersyarat. Pada doa yang menjelma racun karena tak terpenuhi harapan manusiawinya.

Baca Juga: Perang dagang AS vs China: Negeri tirai bambu balas naikkan tarif impor barang dari Paman Sam jadi 125 persen

Ibn ‘Aṭā’illāh al-Sakandarī dalam al-Ḥikam menulis, “Man ‘arafa mā qadrahu istarāḥa min tadbīrih”—“Barang siapa mengenal kadar dirinya, maka ia akan tenang dari ambisi pengaturannya sendiri.”

Ini adalah pelajaran tentang penerimaan. Bahwa anak adalah titipan yang tak pernah menjadi milik kita sepenuhnya.

Bahwa membesarkan anak tidak serta merta menjadikan mereka tempat menggantungkan masa depan kita.

Dan betapa seringnya, orangtua menciptakan realitas yang timpang bagi anak-anaknya. Sebagian berharap anak menjadi sukses agar bisa membayar pengorbanan orangtua.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X