ESAI: Menakar penggunaan gawai atau kembali kepada sistem pembelajaran lama

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 16 April 2025 | 11:33 WIB
Ucu, S.S, Pemerhati Pendidikan dan Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMP Negeri 6 Subang
Ucu, S.S, Pemerhati Pendidikan dan Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMP Negeri 6 Subang

Gawai memungkinkan siswa untuk belajar kapan saja dan di mana saja yang sangat bermanfaat bagi siswa yang memiliki kesulitan akses ke pendidikan tradisional.

Sementara perlu kita sadari pula, gawai dapat menimbulkan gangguan dan distraksi, terutama jika tidak digunakan dengan bijak.

Media sosial, permainan, dan aplikasi lain dapat mengalihkan perhatian siswa dari pelajaran.

Selain itu  tidak semua siswa memiliki akses yang sama ke gawai dan internet, sehingga dapat menciptakan kesenjangan digital dan memperburuk ketidaksetaraan dalam pendidikan.

Baca Juga: Perang dagang AS vs China: Negeri tirai bambu balas naikkan tarif impor barang dari Paman Sam jadi 125 persen

Penggunaan gawai yang berlebihan dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental siswa.

Masalah seperti kelelahan mata, sakit kepala, dan gangguan tidur dapat timbul akibat penggunaan gawai yang terlalu lama.

Sementara untuk interaksi sosial, pembelajaran berbasis gawai dapat mengurangi interaksi sosial antara siswa dan guru. Interaksi sosial sangat penting untuk pengembangan keterampilan sosial dan emosional siswa.

Saat ini bahkan gawai sering disalahgunakan, bukannya digunakan untuk pembelajaran malah digunakan untuk game online.

Baca Juga: Andre Taulany cerita momen terakhir syuting bareng Titiek Puspa: Eyang pegang tangan saya, bicaranya agak lemah

Di sisi lain pelaksanaan pembelajaran dengan sistem lama memungkinkan interaksi sosial langsung antara siswa dan guru, serta antar siswa yang membantu mengembangkan keterampilan sosial dan emosional siswa.

Pelaksanaan pembelajaran sistem lama cenderung fokus pada pembelajaran mendalam dan pemahaman konsep sehingga membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis, sehingga dapat menyuguhkan lingkungan belajar yang terstruktur dan teratur sehingga dapat membantu siswa untuk tetap fokus dan termotivasi.

Sementara ada kekurangan pula dalam pelaksanaan pembelajaran dengan sistem lama, diantaranya seringkali kurang fleksibel dan sulit untuk disesuaikan dengan kebutuhan individu siswa.

Baca Juga: Jokowi kenang momen canda tawa bareng Titiek Puspa 8 tahun lalu: Almarhumah akan selalu hidup di hati kita

Siswa memiliki akses yang terbatas ke informasi dan tentunya kurang relevan dengan tuntutan era digital saat ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X