ESAI: Panggung goyang Bu Salsa: Legitimasi sensasi di atas etika

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 12 April 2025 | 16:28 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Mungkin inilah yang disebut Slavoj Žižek sebagai fetishistic disavowal: 'I know very well what I am doing, but still, I am doing it.' Media sadar betul bahwa yang mereka tampilkan adalah sensasi murahan, tetapi tetap melakukannya karena tahu publik akan menontonnya.

Ini bukan sekadar soal etika pribadi, melainkan tentang struktur produksi media yang kian digerakkan oleh logika kapital, bukan nilai kebenaran.

Dan yang paling menyakitkan dari semua ini adalah ketika figur seperti guru—yang seharusnya menjadi simbol kebajikan dan pencerahan—dijadikan komoditas tontonan.

Dalam khazanah Jawa, guru adalah digugu lan ditiru; sosok yang dipercaya dan diteladani. Namun kini, sang guru tak lagi diteladani karena keilmuannya, melainkan karena keberaniannya menanggalkan batas-batas etika. Sebuah paradoks yang getir.

Baca Juga: Prabowo kilas balik momen dituduh ingin membunuh Soeharto hingga Gus Dur saat cerita soal Thaksin Shinawatra yang gabung Danantara

Adalah tugas kita untuk kembali mengangkat etika sebagai fondasi narasi media. Bukan dengan moralitas yang hipokrit, tetapi dengan keberanian untuk menyatakan bahwa tidak semua hal layak diberi panggung.

Tidak semua popularitas patut dirayakan. Kita memerlukan media yang bukan hanya menyampaikan berita, tetapi menyaring nilai.

Sebagaimana yang pernah ditegaskan oleh Edward Said, media harus menjadi agent of resistance, bukan agen reproduksi nilai-nilai pasar yang dangkal.

Ketika seorang guru yang melakukan tindakan asusila dijadikan selebritas dadakan, kita tidak hanya sedang membicarakan satu individu. Kita sedang membicarakan arsitektur mental sebuah bangsa.

Baca Juga: Prabowo blak-blakan ungkap alasan Thaksin Shinawatra jadi dewan penasihat danantara meski jadi tokoh kontroversial di Thailand

Kita sedang membicarakan generasi muda yang menyaksikan tayangan itu dan mulai berpikir bahwa aib bisa menjadi tangga menuju ketenaran.

Kita sedang membicarakan orang tua yang kelelahan membentengi anak-anak mereka dari paparan toksik media, hanya untuk menyaksikan stasiun televisi besar merobohkan tembok itu dalam satu malam.

Simone Weil pernah mengatakan, 'Imajinasi dan keinginan, bukan logika, adalah akar dari hampir semua tindakan manusia.' Dan sayangnya, media telah lama menyadari ini.

Namun, alih-alih menggunakan daya imajinatifnya untuk membentuk masyarakat yang bijak, media justru mengeksploitasi keinginan terendah manusia demi keuntungan sesaat.

Baca Juga: Beda suara di Kabinet Merah Putih soal kuota impor RI: Prabowo ingin hapus, Kemendag justru masih bimbang

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X