ESAI: Aktivis jangan berkhianat pada kepentingan publik

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Jumat, 4 April 2025 | 05:31 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Dalam konteks Indonesia, kita melihat bagaimana banyak aktivis yang dulunya vokal mengkritik ketidakadilan, akhirnya justru menjadi bagian dari sistem yang mereka lawan.

Mereka menikmati fasilitas, privilese, serta kemudahan akses yang sebelumnya mereka kritik.

Baca Juga: Ayu Aulia bongkar bukti baru, ternyata Lisa Mariana mengaku bohong dan ucap terima kasih ke Ridwan Kamil: Motif fitnahnya uang

Studi oleh Jeffrey Winters tentang ‘oligarki’ di Indonesia menunjukkan bagaimana individu dengan idealisme kuat dapat larut dalam sistem yang menguntungkan elite tertentu.

Menjaga integritas aktivisme

Lalu, bagaimana aktivis dapat tetap menjaga komitmen mereka? Karl Marx mengingatkan tentang ‘kesadaran kelas,’ di mana individu yang sadar akan posisinya dalam struktur sosial tidak akan mudah tergoda oleh sistem yang berlawanan dengan nilai perjuangannya.

Hal ini menegaskan bahwa aktivis harus memiliki komitmen kuat terhadap idealisme awalnya dan terus terhubung dengan basis massa yang mereka wakili.

Selain itu, Antonio Gramsci dalam konsep ‘hegemoni’ menegaskan pentingnya konsistensi dalam membangun narasi perjuangan.

Baca Juga: 5 Tips menjaga ketupat lebaran agar tidak cepat basi, perhatikan dari berasnya hingga cara penyimpanan

Aktivis tidak boleh hanya terjebak dalam pragmatisme politik, tetapi harus mampu terus melakukan resistensi intelektual dan praksis sosial.

Menjadi aktivis bukan hanya tentang melawan ketidakadilan, tetapi juga tentang menjaga integritas ketika diberikan kesempatan untuk memegang kekuasaan.

Godaan politik dan kenyamanan sering kali membuat aktivis kehilangan arah perjuangannya.

Oleh karena itu, mereka harus selalu mengingat bahwa kekuasaan bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk mewujudkan keadilan sosial.

Jika aktivis melupakan akar perjuangan mereka, maka mereka tidak lebih dari sekadar politisi biasa yang berkhianat kepada rakyat.

Baca Juga: Jangan takut mudik bawa mobil listrik, ada 500 unit lebih stasiun pengisian listrik sepanjang Tol Trans Jawa

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X