Dalam konteks Indonesia, kita melihat bagaimana banyak aktivis yang dulunya vokal mengkritik ketidakadilan, akhirnya justru menjadi bagian dari sistem yang mereka lawan.
Mereka menikmati fasilitas, privilese, serta kemudahan akses yang sebelumnya mereka kritik.
Studi oleh Jeffrey Winters tentang ‘oligarki’ di Indonesia menunjukkan bagaimana individu dengan idealisme kuat dapat larut dalam sistem yang menguntungkan elite tertentu.
Menjaga integritas aktivisme
Lalu, bagaimana aktivis dapat tetap menjaga komitmen mereka? Karl Marx mengingatkan tentang ‘kesadaran kelas,’ di mana individu yang sadar akan posisinya dalam struktur sosial tidak akan mudah tergoda oleh sistem yang berlawanan dengan nilai perjuangannya.
Hal ini menegaskan bahwa aktivis harus memiliki komitmen kuat terhadap idealisme awalnya dan terus terhubung dengan basis massa yang mereka wakili.
Selain itu, Antonio Gramsci dalam konsep ‘hegemoni’ menegaskan pentingnya konsistensi dalam membangun narasi perjuangan.
Aktivis tidak boleh hanya terjebak dalam pragmatisme politik, tetapi harus mampu terus melakukan resistensi intelektual dan praksis sosial.
Menjadi aktivis bukan hanya tentang melawan ketidakadilan, tetapi juga tentang menjaga integritas ketika diberikan kesempatan untuk memegang kekuasaan.
Godaan politik dan kenyamanan sering kali membuat aktivis kehilangan arah perjuangannya.
Oleh karena itu, mereka harus selalu mengingat bahwa kekuasaan bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk mewujudkan keadilan sosial.
Jika aktivis melupakan akar perjuangan mereka, maka mereka tidak lebih dari sekadar politisi biasa yang berkhianat kepada rakyat.
Artikel Terkait
Dikenal sebagai aktivis produktif dan pendiri Mapala UI, ini lima puisi Soe Hok Gie yang inspiratif bagi dunia pergerakan
Sinopsis buku Soe Hok Gie 'Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan'
Zaman Peralihan, merenung karya Soe Hok Gie dalam gelombang perubahan
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie
ESAI: Jurus melenyapkan jejak Chairil Anwar
ESAI: Rekrutmen dan realitas: Ironi pasar kerja di Indonesia
ESAI: Kabupaten Subang dan kepemimpinan kaum muda, antara harapan dan tantangan