ESAI: Rekrutmen dan realitas: Ironi pasar kerja di Indonesia

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 20 Maret 2025 | 07:32 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: Tepis tudingan DPR kebut revisi UU TNI di hotel, Sufmi Dasco: Tidak ada rapat diam-diam

Sartre pernah berkata bahwa manusia dikutuk untuk bebas, tetapi seberapa bebas seseorang jika pilihan-pilihannya telah ditentukan oleh hal-hal di luar kendalinya?

Jika usia, gender, dan jaringan sosial lebih berperan daripada kompetensi dan pengalaman, maka sejauh mana kita bisa mengklaim bahwa kita hidup dalam masyarakat yang meritokratis?

Barangkali, yang paling menyedihkan bukanlah bahwa diskriminasi ini terjadi, melainkan bahwa kita menerimanya sebagai sesuatu yang wajar.

Bapak itu akan pulang dengan kecewa, ibu itu akan tetap berjuang sendirian, sementara si pelamar yang memiliki koneksi akan terus melenggang tanpa hambatan. Begitulah kehidupan, kata banyak orang—tetapi haruskah memang demikian?

Baca Juga: Bantah penyanyi Antea Putri Turk adalah keturunan WR Supratman, keluarga: WR Supratman tidak menikah dan tidak memiliki keturunan

Mungkin, esai ini tidak bisa menawarkan solusi instan untuk problematika yang telah berakar selama puluhan tahun.

Namun, ini bisa mengajukan satu pertanyaan yang pantas kita tanyakan berulang kali: Apakah kita benar-benar ingin terus hidup dalam sistem yang tidak memberi ruang bagi keadilan?

Jika jawabannya tidak, maka perubahan harus dimulai dari kesadaran untuk tidak lagi membiarkan ketidakadilan ini menjadi sesuatu yang biasa.

Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X