ESAI : Militer, korupsi dan pertaruhan di Republik Karang Kadempel (RK2)

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Selasa, 18 Maret 2025 | 17:29 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Maka, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah militer harus masuk atau tidak ke dalam pemerintahan, tetapi bagaimana memastikan bahwa kekuasaan—baik sipil maupun militer—tidak disalahgunakan.

Baca Juga: Soroti pentingnya keterbukaan informasi publik, tiga institusi ini datangi Komisi Informasi Jawa Barat

Montesquieu dalam The Spirit of Laws menekankan pentingnya pemisahan kekuasaan sebagai kunci untuk mencegah tirani. Jika Presiden Bagong ingin menggunakan militer, maka harus ada mekanisme kontrol yang ketat agar mereka tidak bertransformasi menjadi alat represi baru.

Republik Karang Kadempel (RK2) saat ini sedang berada di persimpangan jalan sejarah. Pilihan yang diambil hari ini akan menentukan masa depan yang panjang.

Apakah kita akan menyaksikan kebangkitan kembali tangan besi yang mengendalikan negara, atau justru sebuah langkah menuju sistem yang lebih adil?

Apakah kekuatan yang dibutuhkan Presiden Bagong untuk menumpas korupsi akan menjadi kekuatan yang juga menindas rakyat?

Baca Juga: Muncul rekaman diduga Baim Wong bentak Paula Verhoeven dan karyawannya setelah video mengunjungi anak-anak viral: Lu juga gila sih kadang-kadang

Seperti yang pernah dikatakan Pramoedya Ananta Toer:

"Kalian boleh maju dalam pelajaran, tetapi tanpa keberanian, kalian hanya hewan yang terpelajar."

Keberanian seperti apa yang harus diambil oleh Republik Karang Kadempel (RK2)?

Jika sejarah telah mengajarkan kita sesuatu, maka itu adalah bahwa kekuasaan selalu bersifat sementara, tetapi dampaknya bisa bertahan lintas generasi. Hari ini, Republik Karang Kadempel (RK2) berdiri di tepi jurang pilihan yang akan menentukan nasibnya dalam dekade-dekade mendatang.

Di satu sisi, ada janji ketertiban yang datang bersama militer—sebuah harapan bahwa kekuatan yang disiplin dan loyal pada negara dapat memberantas korupsi yang telah lama menjadi kanker dalam sistem.

Baca Juga: Pakar minta Baim Wong tidak melemahkan Paula Verhoeven saat sidang, sebut tentang hak asuh anak: Dia punya hak bicara

Di sisi lain, ada bayangan kelam masa lalu yang mengingatkan bahwa ketika militer terlalu dalam masuk ke ranah sipil, kebebasan bisa berubah menjadi ilusi, dan rakyat kembali menjadi subjek kekuasaan yang tak tersentuh oleh kehendaknya sendiri.

Tetapi, mungkin pertanyaan yang lebih mendalam bukanlah soal memilih antara sipil atau militer. Sebab, di balik semua ini, ada hal yang lebih fundamental: bagaimana sebuah bangsa menentukan nasibnya sendiri?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X