ESAI : Kado istimewa di Hari Guru, refleksi mengenai peran guru sebagai kunci pembentukan karakter siswa dengan pengelolaan sosial emosional

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 28 November 2024 | 21:01 WIB
Ucu, S.S, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 6 Subang
Ucu, S.S, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 6 Subang

Tidak jarang, mereka menghadapi situasi konflik, tekanan sosial, hingga stres akibat tuntutan akademis, keluarga, bahkan temannya.

Oleh karena itu kemampuan mengelola emosi, membangun hubungan yang sehat, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab perlu disampaikan pada setiap siswa.

Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, dimana pelaksanaan pembentukan karakter dengan pelaksanaan pembiasaan menjadi sangat penting dan akan dilakukan di sekolah.

Karena pembiasaan ini merupakan salah satu bentuk pembelajaran sosial emosional, untuk membentuk sikap jujur, disiplin, tanggung jawab, dan empati melalui kegiatan pembiasaan sehari-hari di sekolah.

Baca Juga: Netizen bereaksi usai Dharma-Kun dapat suara 10 persen lewat jalur independen, didorong maju lewat partai

Pembelajaran sosial emosional menjadi salah satu pelaksanaan pembelajaran yang perlu dilakukan.

Menurut Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL), ada lima kompetensi utama dalam pembelajaran ini, diantaranya kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan berhubungan, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Kelima kompetensi ini tidak hanya penting dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter siswa yang siap menghadapi dunia dengan bijak.

Meskipun penting, penerapan pembelajaran sosial emosional untuk membentuk karakter ini, tidak lepas dari tantangan. Salah satu tantangan utamanya adalah kurangnya waktu dan sumber daya.

Baca Juga: Tiga syarat penjaga gawang Garuda! begini kata pelatih kiper Kim Bong-soo hingga perbandingan Ernando Ari dan Marten Paes

Kurikulum yang padat sering kali menyulitkan guru untuk mengintegrasikan ini dengan optimal. Selain itu, tidak semua sekolah memiliki konselor yang dapat memberikan bimbingan khusus terkait masalah sosial dan emosional.

Maka bila Menteri Pendidikan Dasar Dan Menengah berencana memberikan pendidikan dan pelatihan mengenai Bimbingan Konseling pada guru tertentu untuk mengelola sosial emosional siswa menjadi sangat baik untuk perkembangan pendidikan sekarang.

Bagaimanapun dengan kondisi saat ini guru tidak hanya lebih fokus pada pencapaian akademik, sementara pengembangan sosial dan emosional sering kali diabaikan

Melihat kondisi saat ini, urgenisitas pelaksanaan pembelajaran adalah membantu siswa mengembangkan rasa percaya diri dan kesejahteraan psikologis.

Baca Juga: Wow! meskipun cashflow terganggu karena bencana mata air Cipondok, Perumda TRS tetap berhasil tuntaskan target PAD 2024

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X