Sistem penerimaan negara disorot, Hashim Djojohadikusumo sebut pajak hingga royalti Indonesia termasuk terburuk di dunia

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Minggu, 14 Desember 2025 | 20:04 WIB
Hashim Djojohadikusumo menyampaikan pandangannya soal lemahnya sistem penerimaan negara dan tantangan pengelolaan SDA dalam forum akademik di UI (YouTube/univ_indonesia_official)
Hashim Djojohadikusumo menyampaikan pandangannya soal lemahnya sistem penerimaan negara dan tantangan pengelolaan SDA dalam forum akademik di UI (YouTube/univ_indonesia_official)

Mengutip data Bank Dunia, ia menyebut sekitar 35 persen aktivitas ekonomi Indonesia berada di luar pencatatan.

Baca Juga: Bahagia dalam kesederhanaan, senyum 2 bocah pengungsi Aceh mekar saat terima madu dan kurma

“Bank Dunia katakan saat ini ekonomi abu-abu dan hitam itu kurang lebih 35 persen daripada ekonomi kita, tidak tercatat,” kata Hashim.

Ia menjelaskan, selama ini nilai ekonomi Indonesia sering disebut berada di kisaran Rp25.000 triliun. Namun, angka tersebut dinilainya tidak mencerminkan kondisi riil.

“Ekonomi Indonesia bukannya 25.000 triliun, sesungguhnya sudah 31 sampai 32.000 triliun. Tapi sekitar 7 triliun itu tidak tercatat,” lanjutnya.

SDA terancam habis, SDM jadi kunci

Selain persoalan penerimaan negara, Hashim juga mengingatkan ancaman habisnya sumber daya alam (SDA) Indonesia dalam beberapa dekade ke depan.

Baca Juga: Skandal WO Ayu Puspita: 207 Korban mengadu ke polisi, kerugian tembus Rp11,5 miliar

Ia memperkirakan cadangan SDA nasional hanya akan bertahan sekitar 50 tahun lagi.

“Sumber daya alam kita 50 tahun lagi habis,” ujarnya.

Karena itu, Hashim menekankan pentingnya memanfaatkan momentum saat ini untuk memperkuat fondasi ekonomi berbasis kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama melalui pendidikan.

Ia membandingkan Indonesia dengan Korea Selatan yang pada 1960-an berada di bawah Indonesia secara ekonomi, namun kini melesat jauh.

“Tahun 60 ekonomi Indonesia jauh di atas Korea Selatan. Sekarang ekonomi kita per kapita cuma satu per sepuluh dari Korea Selatan,” ungkapnya.

Baca Juga: 6 Anggota Polri jadi tersangka, ini kronologi lengkap penganiyaan maut di TMP Kalibata

Menurut Hashim, penyebab utama ketertinggalan tersebut tidak lain adalah kualitas SDM dan pendidikan nasional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X