Penerimaan pajak neto turun 3,9 persen, DPR sentil Menkeu Purbaya: Ruang fiskal 2026 terancam makin sempit

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Selasa, 25 November 2025 | 22:17 WIB
Anggota Komisi XI DPR Harris Turino soroti penurunan penerimaan pajak neto yang anjlok 3,9 persen (Instagram/harristurino)
Anggota Komisi XI DPR Harris Turino soroti penurunan penerimaan pajak neto yang anjlok 3,9 persen (Instagram/harristurino)

GENMILENIAL.ID — Anggota Komisi XI DPR Harris Turino mengkritik keras performa penerimaan pajak nasional yang dinilai tidak sejalan dengan narasi optimisme pemerintah.

Ia menilai turunnya penerimaan neto justru berpotensi mempersempit ruang fiskal yang dibutuhkan untuk menopang APBN 2026, terutama karena selisih pertumbuhan antara pajak bruto dan neto semakin melebar.

Penerimaan bruto naik, tapi neto justru turun 3,9 persen

Dalam rapat bersama Dirjen Pajak Bimo Wijayanto di Kompleks Parlemen Senayan, Harris menyoroti klaim pemerintah yang menyebut pertumbuhan penerimaan bruto sebesar 1,8 persen sebagai indikator kinerja positif.

Baca Juga: Menkeu Purbaya dan Menteri ESDM Bahlil pastikan keamanan pasokan LPG 3 kg jelang Nataru

Menurutnya, angka tersebut tidak mencerminkan kemampuan riil negara dalam menopang kebutuhan belanja tahun berjalan maupun proyeksi 2026.

Data yang dibahas dalam rapat menunjukkan bahwa penerimaan pajak neto baru mencapai Rp1.459,03 triliun, turun 3,9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu di angka Rp1.517,5 triliun.

Capaian ini baru 70,2 persen dari outlook 2025 yang ditetapkan Rp2.077 triliun.

Harris menilai kondisi tersebut mengkhawatirkan karena target penerimaan 2026 justru naik signifikan menjadi Rp2.357,7 triliun atau melonjak 13,5 persen dari target tahun ini.

Baca Juga: Presiden Prabowo beri rehabilitasi pada tiga mantan Direksi ASDP yang terseret kasus korupsi

“Yang saya ngeri, target 2026 menjadi pertanyaan besar,” tegasnya.

Risiko defisit melebar jika tren melemah berlanjut

Harris menjelaskan bahwa jika realisasi penerimaan 2025 tidak mencapai target, kenaikan yang dibutuhkan pada 2026 akan menjadi jauh lebih ekstrem.

Ia mencontohkan apabila realisasi tahun ini hanya menyentuh 85 persen dari outlook, maka kenaikan target 2026 bisa mencapai 28,5 persen.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X