Sistem penerimaan negara disorot, Hashim Djojohadikusumo sebut pajak hingga royalti Indonesia termasuk terburuk di dunia

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Minggu, 14 Desember 2025 | 20:04 WIB
Hashim Djojohadikusumo menyampaikan pandangannya soal lemahnya sistem penerimaan negara dan tantangan pengelolaan SDA dalam forum akademik di UI (YouTube/univ_indonesia_official)
Hashim Djojohadikusumo menyampaikan pandangannya soal lemahnya sistem penerimaan negara dan tantangan pengelolaan SDA dalam forum akademik di UI (YouTube/univ_indonesia_official)

GENMILENIAL.ID — Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hidup, Hashim Djojohadikusumo, melontarkan kritik keras terhadap sistem penerimaan negara Indonesia yang dinilainya berada dalam kondisi sangat buruk.

Hashim menyebut pengelolaan pajak, bea cukai, hingga penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Indonesia termasuk yang terlemah di dunia dan menjadi penyebab utama minimnya pendapatan negara.

Pernyataan tersebut disampaikan Hashim saat menjadi pembicara dalam acara Bedah Buku Indonesia Naik Kelas bertajuk Future Talk: Indonesia Naik Kelas & Peran Sivitas Akademika yang digelar di Universitas Indonesia, Jakarta, Jumat, 12 Desember 2025.

Baca Juga: Dijerat Pasal 170 ayat 3 KUHP, 6 anggota Yanma Polri jadi tersangka pengeroyokan maut debt collector di Kalibata

Rasio penerimaan negara sangat rendah

Dalam paparannya, Hashim mengungkapkan bahwa rasio penerimaan negara Indonesia hanya berada di kisaran 9–10 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan rasio penerimaan terendah secara global.

“Sistem penerimaan negara kita, pajak, bea cukai, PNBP, royalti, sangat-sangat parah, parah sekali,” tegas Hashim di hadapan sivitas akademika.

Ia menilai rendahnya rasio penerimaan negara tidak mencerminkan potensi ekonomi nasional yang sebenarnya.

Baca Juga: Susuri pesisir Aceh Utara pasca banjir bandang, Menko Zulhas tegaskan hutan lindung tak boleh dirusak

Menurut Hashim, Indonesia seharusnya mampu mencatat pendapatan jauh lebih besar jika sistem dikelola secara profesional dan akuntabel.

“Kalau memang aparat pajak, aparat bea cukai, aparat semuanya itu bekerja dengan benar, Indonesia bukan negara defisit. Indonesia negara surplus,” ujarnya.

Ekonomi gelap capai 35 persen

Hashim juga menyoroti besarnya porsi ekonomi gelap dan ekonomi abu-abu yang belum tercatat dalam sistem resmi negara.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X