Pesan yang disampaikan menekankan pentingnya menjaga persatuan, memperkuat keimanan, serta melanjutkan semangat dakwah yang menjadi fondasi kejayaan Banten di masa lalu.
Aksi sosial dan budaya perkuat kebersamaan
Tak hanya kegiatan religius, panitia juga menggelar khitanan massal yang diikuti 60 anak dari berbagai daerah.
Baca Juga: Road to Malang menyala hidupkan 'Passive Space' kota, sekaligus resmikan komunitas media arts
Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian sosial sekaligus implementasi nilai kebersamaan yang diwariskan para ulama dan sultan Banten.
Rangkaian acara semakin semarak dengan penampilan seni budaya Debus.
Atraksi khas Banten ini berhasil menarik perhatian ribuan jemaah karena memadukan unsur hiburan, spiritualitas, dan kekuatan tradisi.
Melalui peringatan haul ini, masyarakat diharapkan semakin mengenal sejarah besar Kesultanan Banten, sekaligus menumbuhkan semangat untuk melanjutkan warisan nilai-nilai persatuan, dakwah, dan kemajuan peradaban bagi generasi mendatang.***
Artikel Terkait
Israel, negara kolonial pemukim: Wawancara khusus dengan Yanuardi Syukur
Keteladanan KH. Anwar Manshur: Ulama sepuh Lirboyo yang dihormati lintas generasi
Satu dekade Hari Santri: Bupati Subang dikukuhkan jadi Panglima Santri, serukan santri melek zaman dan inovatif
Dilema pendidikan Islam modern: Lembaga yang kaku atau murid yang problematis?
Di Blitar, Megawati ungkap Soeharto tolak Bung Karno dimakamkan di TMP Kalibata: Hanya untuk dimakamkan saja susahnya bukan main
Hasan Nasbi bandingkan program Makan Bergizi Gratis Prabowo dengan PMTAS era Soeharto: Dulu saya juga pernah dapat bubur kacang hijau dan telur rebus
HAB ke-80 Kemenag Subang: Kerukunan umat jadi fondasi pembangunan bangsa berkelanjutan