Laksana vampire, berita itu menggigit banyak isi pikiran orang-orang di Republik Karangkadempel.
Dalam tempo sesingkat-singkatnya, drakula pemujaku terus membesar dan menyebar hingga pelosok-pelosok terpencil Republik Karangkadempel.
Baca Juga: Hasil undian Timnas Indonesia di Round 4 tuai harapan netizen: Berat tapi bukan berarti mustahil
Mereka tidak tahu, aku hanya seekor anjing yang menjaga kawanan domba seperti dalam film Shaun the Sheep.
Tidak perlu ke Gunung Kawi. Tidak perlu pula mencari tahu keberadaan Nyi Blorong. Pesugihan itu datang sendiri.
Membawa beludru merah terang. Satu tangga, dua tangga, hingga tinggal tangga terakhir yang mesti dilintasi menuju Puncak Keprabon.
Banyak kepala yang mesti diinjak. Tapi mereka justru menyambut dengan riang gembira. Semacam lirik lagu Led Zappelin, dalam situasi eforia di sana ada perempuan yang menganggap semua yang bercahaya itu emas. Itu tangga ke surga.
Baca Juga: Wakapolres Subang pimpin pengecekan senpi, tegaskan disiplin dan tanggung jawab personel
"Oh ya, ya nasib. Nasibku bukan nasibmu."
Tiba-tiba saja aku tertawa. Pundakku yang kurus seperti jerangkong bergoyang-goyang mendengar lagu Iwan Fals dari dashboard mobil.
Bukan mobil Esemku tentunya. Karena esemku, atau dalam bahasa Indonesia senyumku, kata orang tidak begitu bagus.
Maka aku tidak akan pernah mau ikut-ikutan kursus soft skill, kepribadian dan public speaking di John Robert Power cabang Republik Karangkadempel.
Semua itu tidak kebetulan. Sudah ada plot. Termasuk beternak orang-orang miskin melalui rupa-rupa bantuan sosial.
Baca Juga: IAD Subang kian dekat dengan masyarakat, soroti peran sosial di HUT ke-25
Mereka tidak boleh pintar. Bahaya bagi para ndoro yang memberikan aku dan keluargaku kemuliaan yang luar biasa.