Aku sang Raja. Sebelumnya bukan siapa-siapa. Hanya bocah kurus yang tinggal di bantaran sungai.
Tidak punya bakat istimewa. Saat sekolah sejak sekolah dasar hingga menyandang titel Bachelor of Science (BSc) nilaiku biasa-biasa saja, bahkan sedikit di bawah rata-rata.
Tapi di Karanglo gelar doktorandus disematkan di depan namaku. Aku pun bingung. Di Jayakarta gelarku berubah lagi jadi insinyur. Padahal mestinya hanya BSc.
Sekarang aku dikejar-kejar soal ijazah yang katanya palsu. Kenapa bisa begitu? Aku tidak akan mengatakan ijazah itu asli atau palsu.
Baca Juga: Ahmad Dhani akui pernah jadi korban KDRT oleh Maia Estianty: El pernah lihat saya dilempar remote TV
Namun sekedar mengenang jalan hidup yang aku sendiri kaget, bisa sangat luar biasa seperti ini. Semua itu dimulai dari mimpi, beludru merah terang bercahaya yang jatuh di wuwungan rumahku.
Sebagai orang jawadwipa aku percaya, mimpi bukan sekedar kembang tidur, melainkan sasmita yang aku terjemahkan sebagai jalan cahaya.
Betul juga. Tidak lama setelah itu aku diundang oleh Pak Menteri ikut pameran produk-produk furniture di Abudaby, lanjut ke Zurich dan beberapa kota besar di Eropa Sejak itu kehidupan keluargaku membaik.
Ekspor furniture lancar. Mas Wiwit, begitu aku biasa dipanggil, bukan lagi juragan mebel kecil-kecilan. Melainkan berkat bantuan Pak Menteri sudah go international.
Baca Juga: Ahmad Dhani ungkap pesan terselubung di balik pujian untuk suami Maia Estianty
Pak Menteri yang sudah pensiun rupanya menjadi Koordinator Para Ndoro.
Dalam pembicaraan rahasia yang hanya tercatat dalam ingatan, suatu saat Pak Koordinator menyuruhku bersiap diri menggantikan Pak Wali yang paketannya sudah mau habis.
Nanti, katanya, aku didampingi ketua partai terbesar di kota Karanglo yang karena pemeluk agama minoritas tidak bisa menjadi Walikota Karanglo.
"Siap ya dik?" kata Pak Koordinator Para Ndoro.
Artikel Terkait
ESAI : Gempita sejarah sastra Indonesia, menggali kejayaan dan inovasi literatur tanah air
Psikologi sastra, memahami kompleksitas kemanusiaan melalui karya sastra
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
CERPEN: Pelangi purba di langit Melayu
CERPEN: Sujud mantra di Masjid Amir Hamzah