"Sendiko dhawuh. Selalu always tidak pernah never pokoknya," jawabku membuat Pak Koordinator terbahak-bahak.
Baca Juga: Terekam CCTV, bus 168 tabrak toko bangunan di jalur rawan kecelakaan Bayeman
Itu lah starway to heaven. Beludru merah terhampar.
Meskipun ngomong masih kagok, terkesan plonga-plongo dan imbas-imbis, tapi justru itulah yang menjadi kekuatanku. Dunia sedang bergolak.
Masyarakat pada umumnya tidak percaya lagi tampang priyayi yang pekerjaannya hanya ngapusi dan mbagusi.
Aku adalah kita. Bukan Le 'etat c'est moi ucapan Raja Louis XIV yang pada praktiknya ditiru oleh beberapa presiden di Republik Karangkadempel.
Itu lah pesan kebersahayaan yang menempel begitu lekat di kepala para pemilih.
Baca Juga: Menilik Pasar Otomotif Juni 2025: Whole sales melemah, merek China makin menanjak
Aku sendiri bingung bagaimana orang-orang itu berdatangan. Mengorganisir diri dalam kelompok-kelompok relawan di seluruh pelosok Karangkadempel.
Rekam jejakku saat menjabat Walikota Karanglo memang moncer.
Penertiban pedagang yang selalu gagal dilakukan oleh walikota sebelumnya dapat aku selesaikan dalam waktu 3 bulan.
Meskipun negosiasi terkesan alot sesungguhnya hanya semacam dramaturgi yang harus aku mainkan.
Supaya dunia kagum atas hadirnya bintang politik berpenampilan sederhana, public speaking yang kacau balau, dan inilah Harapan Baru sebagaimana ditulis majalah Time.
Baca Juga: Basarnas berhasil evakuasi pendaki asal Swiss yang terjatuh di Rinjani lewat udara
Karangkadempel memiliki ikon baru dengan chasing sederhana, pekerja keras dan selalu blusukan untuk memastikan program kerja dijalankan hingga level birokrasi terbawah.
Artikel Terkait
ESAI : Gempita sejarah sastra Indonesia, menggali kejayaan dan inovasi literatur tanah air
Psikologi sastra, memahami kompleksitas kemanusiaan melalui karya sastra
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
CERPEN: Pelangi purba di langit Melayu
CERPEN: Sujud mantra di Masjid Amir Hamzah