Baca Juga: Ahmad Dhani minta Irwan Mussry tegur Maia Estianty: Stop pura-pura jadi yang tersakiti
Dan itu bisa dilakukan kalau aku sendiri yang memainkan peran koordinator para ndoro.
Pak Luhur Budi Paramarta yang rambut dan kumisnya dicat hitam legam biar tidak terlihat tua, tampaknya oke-oke saja asal aku selalu ingat ritual tapa asu, bertapa laksana anjing.
Jangan sekali-kali melupakan siapa yang memberikan aku makan.
Bukan dalam arti yang sebenarnya melainkan hidup penuh kemuliaan meskipun aku tahu sedang dihujat kaum cerdik pandai di seluruh wilayah Republik Karangkadempel.
Baca Juga: Riza Chalid terseret skandal korupsi BBM Rp193,7 triliun, 'Saudagar Minyak’ resmi jadi tersangka
Republik Karangkadempel terus bergolak. Sarang lebah tidak bisa diandalkan lagi mengusir para pembangkang yang makin banyak berjejal menguasai media sosial.
Presiden baru yang pamornya semakin bercahaya sulit ditebak arahnya. Kadang membiarkan kericuhan terus terjadi.
Tapi kadang pula tampak membela anak sulungnya yang sekarang jadi wakilnya.
Sebagai koordinator para ndoro pun yang sudah menempatkan petugas jagabaya di semua lini tampak semakin kacau.
Aku curiga koordinator para ndoro diam-diam ikut cawe-cawe sehingga apa pun plot yang aku buat lewat produk legislasi hancur berantakan, malah muncul garuda biru dan demonstrasi 22 Agustus 2024.
Belum lagi tudingan penggunaan dokumen palsu yang membuat beludru merah tidak lagi bercahaya.
Yang ada justru sambaran petir yang menghancurkan patung-patung di kantor Walikota Karanglo semakin membuatku cemas.
Mungkin aku ada utang dengan Nyi Blorong sehingga kulitku mengelupas.
Artikel Terkait
ESAI : Gempita sejarah sastra Indonesia, menggali kejayaan dan inovasi literatur tanah air
Psikologi sastra, memahami kompleksitas kemanusiaan melalui karya sastra
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
CERPEN: Pelangi purba di langit Melayu
CERPEN: Sujud mantra di Masjid Amir Hamzah