Beludru merah terang menjadi sangat bercahaya berkat sentuhan midas para ndoro lewat beragam platform media sosial dengan jutaan akun sarang lebah.
Mereka militan, rajin patroli membunuh karakter orang-orang skeptis yang mulai meragukan kepemimpinanku.
Terus terang aku tidak tahu siapa persisnya yang memfasilitasi jutaan akun sarang lebah itu.
Tapi aku tahu itu pasti datang dari kantor-kantor gelap para ndoro yang kabarnya membentuk Satgasus Merah Terang Bercahaya.
Baca Juga: IAD Kabupaten Subang gelar khitanan massal dan donor darah, wujud kepedulian di HUT ke-25
Kadang kala seperti jaman Kaisar Roma, sesuai plot yang aku mainkan mesti pandai selain bagi-bagi roti juga harus pandai bermain sirkus.
Rakyat sepertinya terhibur saat ada pejabat yang ditangkap dalam kasus korupsi. Itu lah Taman Hiburan Rakyat (THR) era millenial.
Bukan lagi kedai ndangdutan, bukan lagi lawak Srimulat, bukan lagi konser musik atau tarian striptis yang sering digeruduk kaum puritan.
Melainkan dengan menangkap koruptor di berbagai lapisan pejabat. Kalau itu dijalankan rakyat senangnya bukan main.
Karena suasana rata-rata penduduk dunia anti priyayi atau kata Sulis, stafku sejak di Karanglo, gejala itu lazim disebut populisme.
Baca Juga: Viral jenazah tenaga kesehatan dibawa naik motor di Donggala, jalan rusak tak bisa dilalui ambulans
Namun di sisi lain, aku harus pandai-pandai merawat kepentingan para ndoro yang ternyata tidak selalu sama antara yang satu dan lainnya, dan masing-masing pula ingin mendapatkan pelayanan prioritas.
Akibatnya, kesenjangan sosial, kata mendiang ekonom Universitas Karangkadempel, semakin melebar.
Utang negara semakin bongso dan apa yang harus aku lakukan? Terus bermain drama sebab kalau aku tidak menyiapkan anak sulungku situasinya akan bertambah gawat.
Bisa-bisa aku menjadi presiden pertama Republik Karangkadempel yang diadili dengan banyak pasal: ada penipuan, pemalsuan dokumen, dugaan korupsi dan masih banyak lagi.
Artikel Terkait
ESAI : Gempita sejarah sastra Indonesia, menggali kejayaan dan inovasi literatur tanah air
Psikologi sastra, memahami kompleksitas kemanusiaan melalui karya sastra
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
CERPEN: Pelangi purba di langit Melayu
CERPEN: Sujud mantra di Masjid Amir Hamzah