Aku bukan lagi sang raja. Kalau aku sang raja pasti sudah dibuat patung Pak Wiwit di pulau palsu yang berserak di Teluk Jayakarta.
Ya, mungkin saja paketan sudah habis dan aku tidak ada jalan lagi membelinya.
"Tidak semua bisa dibeli pak," kata Sulis, stafku sejak dari Karanglo yang kini entah ada di pihak siapa.
Proklamasi, 18 Juli 2025
Marlin Dinamikanto, pemerhati sejarah dan kebudayaan kontemporer yang berlatar belakang aktivis gerakan – antara lain pimpinan redaksi Kabar dari Pijar (1995–1999)
Artikel Terkait
ESAI : Gempita sejarah sastra Indonesia, menggali kejayaan dan inovasi literatur tanah air
Psikologi sastra, memahami kompleksitas kemanusiaan melalui karya sastra
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
CERPEN: Pelangi purba di langit Melayu
CERPEN: Sujud mantra di Masjid Amir Hamzah