Dengan sekejap kota yang tadinya kumuh menjadi kota yang begitu bercahaya.
Aku sendiri kaget, kok bisa? Padahal sebelumnya aku sama sekali tidak punya cita-cita menjadi ini itu.
"Ya ndak tahu. Kok tanya saya," jawabku kepada wartawan.
"Terus, tanya siapa dong?"
"Kata mas Ebiet kan sudah jelas. Tanyakan saja kepada rumput yang bergoyang," jawabku mulai pandai berkelit yang selanjutnya dinarasikan oleh pemujaku pandai berdiplomasi.
Jarak antara ngapusi dan diplomasi menjadi sangat kabur.
Baca Juga: Resmi, Garuda satu grup dengan Irak dan Arab Saudi di Round 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026
Orang-orang itu tentu saja tidak tahu. Saat didatangi Pak Luhur Budi Paramarta selaku koordinator para ndoro ada satu ritual yang harus aku jalani.
Apa itu? Tapa Asu, bertapa laksana anjing. Biar suatu saat nanti aku selalu ingat kepada para ndoro yang memberi makan.
Padahal dari sisi fisik aku bukan jenis anjing mahal seperti Tibetan Mastiff, Samoyed, Rottweiler, Akita, atau Bernese Mountain Dog.
Aku hanya anjing kampung yang biasa dijadikan tongseng asu oleh warga Karanglo.
Baca Juga: JPP Promedia audiensi dengan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, bahas sinergi media dan pemerintah
Tapi aku sangat setia kepada para ndoro yang hidupnya semakin kaya raya.
Dari Karanglo ke Jayakarta. Berkendara mobil Esemku. Beritanya headline (belum ada istilah viral) di semua media mapan.
Artikel Terkait
ESAI : Gempita sejarah sastra Indonesia, menggali kejayaan dan inovasi literatur tanah air
Psikologi sastra, memahami kompleksitas kemanusiaan melalui karya sastra
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
CERPEN: Pelangi purba di langit Melayu
CERPEN: Sujud mantra di Masjid Amir Hamzah