humaniora

CERPEN: Beludru merah terang itu tidak lagi bercahaya

Jumat, 18 Juli 2025 | 14:33 WIB
Ilustrasi - Beludru merah terang itu tidak lagi bercahaya

Kemana-mana aku kendarai motor bebek merah mendatangi warga yang kebanjiran atau menjadi korban kebakaran.

Nama Pak Wiwit menggelora bukan hanya di sekitaran eks Karanglo Raya. Melainkan sudah menyebar ke kota-kota lain di Republik Karangkadempel.

Beludru merah semakin kinclong. Grup musik rock Led Zappelin menyebutnya Starway to Heaven. Untuk itu sang koordinator para ndoro menyuruh aku pura-pura sebagai penggemar berat lagu-lagu rock.

Biar tidak terkesan ndesa seperti wajahku yang memang tidak bisa diubah oleh tekhnologi artificial inteligency generasi awal.

Baca Juga: Tokoh agama jadi mitra strategis Polri, Kapolres Subang bangun jembatan harmoni untuk Kamtibmas

Photoshop hanya bisa membuat wajahku lebih cerah, tidak kumal, tapi tidak membuat wajah pasaran ini menjadi lebih ganteng.

Sesuai plot yang harus aku mainkan, antrian di pelayanan umum dibuat seperti nasabah mengantri di bank.

Ribuan unit AC didrop ke kantor-kantor kelurahan, kecamatan, dukcapil dan sebagainya.

Warga tidak perlu berpanas-panas, tinggal ambil nomer antrian dan duduk manis di ruang tunggu yang sejuk dan nyaman.

Jalanan di Kota Karanglo mulus. Bagaimana tidak mulus? Setiap ada lobang tinggal telepon ke nomer tertentu jalanan segera diperbaiki.

Baca Juga: Uang kompensasi pedagang ditilep oknum, kasusnya dilaporkan ke polisi

Katanya sih bantuan dari dunia usaha. Sejujurnya semua itu sudah ada dalam plot berjudul Rodmap Beludru Merah menuju Erka Satu.

Aku, Pak Wiwit, hanya sekedar menjalani peran yang seketika membuatku spektakuler, dielu-elukan warga melebihi

Singkat cerita Walikota Karanglo segera mendapatkan pujian dari berbagai kalangan.

Majalah Tempe dengan moto enak digoreng dan perlu mentahbiskan aku masuk 10 Kepala Daerah Terbaik 2010.

Halaman:

Tags

Terkini