Bahaya 'perang suci' dalam retorika politik Amerika

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:50 WIB
Yanuardi Syukur, peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun
Yanuardi Syukur, peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun

Dalam kondisi tersebut, musuh tidak lagi dipandang sebagai lawan politik atau negara yang memiliki kepentingan berbeda, tetapi sebagai pihak yang harus dimusnahkan.

Krisis kepercayaan di kalangan prajurit

Selain berdampak pada persepsi publik, narasi perang berbasis agama juga dinilai berpotensi memengaruhi kondisi psikologis dan moral prajurit di lapangan.

Sejumlah laporan dari organisasi yang memantau kebebasan beragama di lingkungan militer Amerika menyebut adanya pengaduan dari personel militer terkait penggunaan narasi keagamaan dalam pembenaran perang.

Baca Juga: Viral kasus pembuangan bayi di Bekasi, polisi ungkap motif pelaku takut diusir orang tua

Menurut Yanuardi, situasi seperti ini dapat menimbulkan krisis kepercayaan di kalangan prajurit, terutama jika perang tidak lagi dipahami sebagai keputusan politik rasional, melainkan sebagai bagian dari takdir keagamaan.

“Ketika konflik dipandang sebagai takdir agama, maka hukum perang, diplomasi, dan upaya penyelesaian damai bisa dianggap tidak relevan,” ujarnya.

Risiko konflik berkepanjangan

Yanuardi juga menyoroti hubungan politik antara kelompok nasionalis Kristen di Amerika Serikat dengan sejumlah tokoh politik yang mendukung kebijakan luar negeri agresif.

Baca Juga: Viral menu MBG berbelatung di Malang, operasional SPPG Lowokwaru Tulusrejo 2 dihentikan sementara

Menurutnya, aliansi tersebut berpotensi mendorong konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Beberapa politisi bahkan menyebut konflik tersebut sebagai perang yang akan menentukan masa depan kawasan selama ratusan tahun.

“Jika konflik dibingkai sebagai perang agama, maka perang bisa berlangsung tanpa tujuan yang jelas dan sulit dihentikan melalui diplomasi,” kata Yanuardi.

Ia menilai pendekatan tersebut berpotensi merusak kredibilitas moral Amerika Serikat di mata dunia internasional.

Baca Juga: KPK ungkap peran bos Maktour Travel di kasus dugaan korupsi kuota haji era Menag Yaqut

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X