GENMILENIAL.ID - Retorika keras yang muncul dari pejabat tinggi Amerika Serikat dalam konflik Iran memunculkan kekhawatiran baru di kalangan akademisi dan pengamat politik internasional.
Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun, Yanuardi Syukur, menilai pergeseran narasi perang Amerika Serikat saat ini menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Menurutnya, jika pada masa lalu Amerika Serikat sering membingkai perang dengan narasi seperti pembebasan, demokrasi, atau misi kemanusiaan, kini muncul retorika yang lebih keras dan emosional.
Baca Juga: Arus Tol Cipali ke arah Cirebon naik 75 persen, Astra beri diskon tarif mudik 30 persen
Salah satu contohnya terlihat dalam pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, yang menggunakan istilah seperti 'pembalasan', 'kemarahan', hingga 'efisiensi brutal' dalam menggambarkan konflik dengan Iran.
“Nama operasi ‘Epic Fury’ yang disetujui Hegseth menunjukkan adanya perubahan paradigma dalam cara Amerika membingkai perang,” ujar Yanuardi Syukur dalam wawancara eksklusif, Sabtu, 14 Maret 2026.
Menurutnya, perubahan bahasa politik tersebut bukan sekadar persoalan retorika, melainkan juga dapat memengaruhi cara masyarakat dan militer memandang konflik.
Baca Juga: Kapolres Subang berbagi di Ramadan, 500 anak yatim dan kaum jompo terima santunan
Risiko sakralisasi kekerasan
Yanuardi menilai salah satu bahaya terbesar dari retorika tersebut adalah penggabungan antara agama dan kekuatan militer.
Ia mencontohkan bagaimana kutipan ayat keagamaan atau simbol-simbol religius digunakan untuk membenarkan tindakan militer.
Menurutnya, pendekatan ini berpotensi menciptakan legitimasi kekerasan tanpa batas karena perang dianggap sebagai bagian dari kehendak ilahi.
“Ketika kekerasan dibungkus dengan narasi agama, ruang untuk kompromi, negosiasi, dan pertimbangan etika menjadi semakin sempit,” jelasnya.
Artikel Terkait
Konflik Iran-Israel dan dinamika baru Timur Tengah: Perspektif Yanuardi Syukur, peneliti UI
Iran, obor sains Islam yang terus menyala: Perspektif Yanuardi Syukur soal kejayaan intelektual negeri para Mullah
Israel, negara kolonial pemukim: Wawancara khusus dengan Yanuardi Syukur
Iran tak goyah meski Khamenei gugur, AS-Israel terjebak konflik panjang
Konflik Israel-Iran memanas, Mahfud MD minta RI kembali tegas ke politik bebas-aktif
Kapabilitas rudal Iran dan ancaman nuklir, ini analisis peneliti UI Yanuardi Syukur
Mojtaba Khamenei jadi pemimpin Iran, peneliti UI Yanuardi Syukur prediksi konflik Timur Tengah memanas