Bahaya 'perang suci' dalam retorika politik Amerika

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:50 WIB
Yanuardi Syukur, peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun
Yanuardi Syukur, peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun

GENMILENIAL.ID - Retorika keras yang muncul dari pejabat tinggi Amerika Serikat dalam konflik Iran memunculkan kekhawatiran baru di kalangan akademisi dan pengamat politik internasional.

Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun, Yanuardi Syukur, menilai pergeseran narasi perang Amerika Serikat saat ini menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

Menurutnya, jika pada masa lalu Amerika Serikat sering membingkai perang dengan narasi seperti pembebasan, demokrasi, atau misi kemanusiaan, kini muncul retorika yang lebih keras dan emosional.

Baca Juga: Arus Tol Cipali ke arah Cirebon naik 75 persen, Astra beri diskon tarif mudik 30 persen

Salah satu contohnya terlihat dalam pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, yang menggunakan istilah seperti 'pembalasan', 'kemarahan', hingga 'efisiensi brutal' dalam menggambarkan konflik dengan Iran.

“Nama operasi ‘Epic Fury’ yang disetujui Hegseth menunjukkan adanya perubahan paradigma dalam cara Amerika membingkai perang,” ujar Yanuardi Syukur dalam wawancara eksklusif, Sabtu, 14 Maret 2026.

Menurutnya, perubahan bahasa politik tersebut bukan sekadar persoalan retorika, melainkan juga dapat memengaruhi cara masyarakat dan militer memandang konflik.

Baca Juga: Kapolres Subang berbagi di Ramadan, 500 anak yatim dan kaum jompo terima santunan

Risiko sakralisasi kekerasan

Yanuardi menilai salah satu bahaya terbesar dari retorika tersebut adalah penggabungan antara agama dan kekuatan militer.

Ia mencontohkan bagaimana kutipan ayat keagamaan atau simbol-simbol religius digunakan untuk membenarkan tindakan militer.

Menurutnya, pendekatan ini berpotensi menciptakan legitimasi kekerasan tanpa batas karena perang dianggap sebagai bagian dari kehendak ilahi.

“Ketika kekerasan dibungkus dengan narasi agama, ruang untuk kompromi, negosiasi, dan pertimbangan etika menjadi semakin sempit,” jelasnya.

Baca Juga: Novel Baswedan soroti penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus, sebut kejahatan biadab

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X