GENMILENIAL.ID - Setelah perang 12 hari yang memicu guncangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, Iran menyatakan diri sebagai pemenang atas Israel.
Kepada GenMilenial.id, Yanuardi Syukur, peneliti di Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, memberikan analisis mendalam tentang dimensi konflik tersebut.
Pertempuran langsung, kemenangan moral
"Konflik antara Israel dan Iran ini bukan sekadar perang militer, tapi juga perang simbolik dan geopolitik," ujar Yanuardi.
Ia menilai kemenangan yang diklaim Iran bersifat naratif dan moral, bukan strategis permanen.
Meski rudal-rudal Iran membobol sistem Iron Dome Israel dan menyebabkan kerusakan fisik, sektor strategis Israel tetap bertahan.
Menurut Yanuardi, yang menarik dari perang 12 hari ini adalah transisinya dari perang proksi menuju konfrontasi langsung (direct confrontation).
Ini merupakan fase baru dalam dinamika Timur Tengah yang jarang terjadi secara terbuka.
Iran dan transformasi geopolitik
Efisiensi rudal Iran yang mengejutkan dunia menunjukkan keberhasilan negara tersebut membangun kekuatan militer otonom, meski berada di bawah tekanan sanksi.
“Iran berhasil membangun ekosistem riset militer yang lebih kuat dari negara-negara Arab Teluk yang lebih kaya secara ekonomi,” jelasnya.
Menurut Yanuardi, hal ini tak lepas dari identitas historis Iran sebagai bangsa pemenang yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan keberanian melawan tekanan luar.
Artikel Terkait
ESAI: Setelah kunjungan Trump ke Timur Tengah
ESAI: Paus Leo XIV dan harapan perdamaian untuk Gaza
Konflik Iran-Israel dan arsitektur baru Timur Tengah: Perspektif peneliti UI
Presiden Iran tegaskan tak ingin produksi senjata nuklir: Kami hanya ingin pertahankan hak yang sah
Perang Israel-Iran, DPR imbau WNI di wilayah konflik tetap tenang, evakuasi dilakukan bertahap
Iran bantah rencana negosiasi nuklir dengan AS, Menlu Araghchi sebut Washington penuh kontradiksi
Perang Israel-Iran sempat ganggu penerbangan haji, Menag: Sekarang sudah mulai lancar