“Kami merasa pendidikan adalah prioritas. Anak-anak harus terus belajar,” tegasnya.
Baca Juga: Pamanukan lumpuh total, banjir rendam pertokoan dan jalan utama hingga aktivitas warga terhenti
Ia juga menyoroti kondisi lapangan yang kini mulai sepi dari perhatian publik. Menurutnya, setelah bencana tidak lagi viral, kepedulian pun ikut menurun.
“Tugas paling berat adalah ketika tidak banyak lagi yang datang. Saat perhatian mulai hilang, justru di situlah mereka paling membutuhkan bantuan,” ungkapnya.
Ajak publik terus peduli korban bencana
Menutup pernyataannya, Salim mengajak masyarakat untuk terus menyebarkan informasi dan mendukung upaya pemulihan, khususnya bagi anak-anak korban bencana di Sumatera.
“Siapa pun yang masih datang dan peduli pada bencana Sumatera, tolong sebarkan. Jangan biarkan mereka sendirian,” pungkasnya.***
Artikel Terkait
Hampir dua bulan pascabanjir, Aceh Tamiang kini berselimut debu dan terancam ISPA
55 Hari pascabanjir, rumah warga Pidie Jaya masih tertimbun lumpur: Sebulan lagi Ramadan
Cerita warga Meureudu Pidie Jaya saat banjir datang: Buka pintu, air langsung masuk
Ratusan aktivis dan budayawan soroti krisis lingkungan nasional dalam Gunem Alam di Sumedang
Ki Maher: Bencana tak lagi bisa diprediksi, saatnya manusia kembali menjaga alam
Petani Aceh Utara tetap menanam padi meski lumpur setinggi pinggang
Lubang raksasa di Aceh Tengah terus meluas, jalan penghubung terputus