“Konflik Aceh sudah kita hadapi, damai sudah kita pelihara Mualem. Tsunami Aceh sudah kita tangani, gempa serempah di dataran tinggi Tanoh Gayo sudah kita hadapi,” katanya.
Ia juga menyinggung pandemi dan bencana lainnya yang pernah dilalui masyarakat Aceh dengan semangat kebersamaan.
“Covid-19 sudah kita lalui juga Mualem, bencana longsor dan banjir sama-sama kita lalui Mualem,” lanjutnya.
Ketegaran pemimpin adalah kekuatan rakyat
Dalam pesannya, pria tersebut menekankan bahwa kekuatan masyarakat sangat bergantung pada ketegaran seorang pemimpin.
Ia berharap Mualem dapat menjadi simbol kekuatan di tengah situasi sulit.
“Jangan nangis-nangis lagi, masyarakat bersamamu Mualem, jangan cengeng,” pintanya.
Pesan itu ditutup dengan kalimat yang menggambarkan identitas dan kebanggaan masyarakat Aceh.
“Aceh adalah rahim para pejuang, bangsa yang paling sulit ditaklukkan. Bangun Mualem, kalau pemimpin menangis kami masyarakat lemah Mualem,” pungkasnya.
Momen ini menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, solidaritas dan semangat juang masyarakat Aceh tetap menyala.
Dukungan moral yang datang dari rakyat menunjukkan kuatnya ikatan batin antara pemimpin dan warganya dalam menghadapi cobaan bersama.***
Artikel Terkait
Di balik senyumnya, bocah pengungsi Aceh hanya minta satu baju karena pakaiannya hanyut
Sinyal masih sulit, relawan bantu ibu di Aceh Tamiang video call anak yang kuliah di Yaman: Mamak di sini aman
Tolak uang dan makanan, pengungsi Aceh Tamiang ini hanya minta mukena agar bisa salat
Pengungsi Aceh jamui relawan dari dapur umum, kisah berbagi di tengah duka banjir bikin haru
Banjir bandang kembali terjang Batu Busuk Padang, arus deras jebol tanggul dan seret warga
Lawan keterisolasian, warga Beutong Ateuh nekat bangun jembatan kayu di tengah arus sungai deras
Tak punya uang, punya tenaga: Pemuda Aceh rela jalan puluhan kilometer jual cabai demi korban banjir