Ia bahkan menyamakan perasaan bahagianya dengan perayaan hari besar.
“Macam hari raya aku bang, macam dapat baju baru,” katanya dengan mata berbinar.
Ungkapan polos itu mencerminkan betapa kejenuhan dan kelelahan psikologis selama di pengungsian bisa terobati hanya dengan makanan yang akrab dan dirindukan.
Dampak psikologis bantuan yang sering terlupakan
Kisah ini membuka mata banyak pihak bahwa bantuan bencana tidak hanya berkaitan dengan jumlah, tetapi juga kualitas dan kedekatan emosional dengan para korban.
Makanan khas daerah atau makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari ternyata memiliki dampak psikologis besar bagi pengungsi.
Baca Juga: Bahagia dalam kesederhanaan, senyum 2 bocah pengungsi Aceh mekar saat terima madu dan kurma
Sepiring Nasi Padang dalam kisah ini menjadi simbol kembalinya rasa normal di tengah situasi darurat, sekaligus penanda bahwa para korban tidak dilupakan.
Pengingat pentingnya pendekatan kemanusiaan
Di balik cerita sederhana ini, tersimpan pesan kuat bagi para relawan, pemerintah, dan masyarakat luas, memperhatikan kebutuhan kecil dan kerinduan para pengungsi dapat menghadirkan harapan besar.
Bagi korban banjir Aceh Tamiang, sepiring Nasi Padang bukan hanya makanan, tetapi bentuk perhatian, empati, dan penguatan mental untuk bertahan menghadapi masa sulit pascabencana.***
Artikel Terkait
Harunya pengungsi Aceh Tamiang: Lapar berhari-hari, tapi tetap tidak serakah saat dapat bantuan
Kayu menumpuk jadi kendala, Gubernur Aceh ungkap Tim China sulit deteksi jenazah korban banjir
3 Jam jalan kaki demi beras dan BBM: Warga Bener Meriah kerubungi mobil pengangkut minyak di tengah akses terisolasi
Pilu korban banjir Aceh Tamiang berteduh di bawah terpal, seorang ibu mengaku tak butuh uang
Air mata relawan menetes, permintaan dua selimut bocah korban banjir Aceh: Satu untuk mamak
Bahagia dalam kesederhanaan, senyum 2 bocah pengungsi Aceh mekar saat terima madu dan kurma
Susuri pesisir Aceh Utara pasca banjir bandang, Menko Zulhas tegaskan hutan lindung tak boleh dirusak