GENMILENIAL.ID — Di tengah dinginnya malam pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, sebuah peristiwa kecil justru menyentuh nurani banyak orang.
Bukan teriakan minta bantuan, bukan pula keluhan panjang tentang penderitaan, melainkan permintaan sederhana dari seorang bocah laki-laki korban banjir yang membuat relawan terdiam dan meneteskan air mata.
Momen itu terjadi saat relawan menyalurkan bantuan logistik di salah satu lokasi pengungsian korban banjir Aceh.
Di antara antrean warga yang berharap mendapat selimut untuk menghangatkan tubuh, bocah kecil itu melangkah pelan mendekati meja bantuan.
Dengan suara lirih dan mata polos, ia menyampaikan permintaannya.
“Kak, selimut satu,” ucapnya pelan.
Permintaan sederhana yang menghentikan langkah relawan
Seorang relawan segera meraih selimut dan hendak menyerahkannya. Namun, langkah tersebut terhenti ketika bocah itu kembali menoleh, seolah masih ada yang mengganjal di hatinya.
“Satu lagi untuk mamak,” imbuhnya singkat.
Baca Juga: Desa wisata jadi mesin ekonomi warga, Wabup Subang tegaskan seni lokal tak sekadar tontonan
Kalimat pendek itu sontak membuat suasana hening. Para relawan yang berada di lokasi pengungsian saling berpandangan, sebagian tak mampu menyembunyikan rasa haru.
Di tengah kondisi serba terbatas, ketika banyak orang memikirkan keselamatan dan kenyamanan diri sendiri, bocah itu justru lebih dulu memikirkan ibunya.
Permintaan dua selimut itu bukan tentang jumlah bantuan, melainkan tentang kasih sayang dan empati yang lahir dari kepolosan seorang anak.
Artikel Terkait
Harunya pengungsi Aceh Tamiang: Lapar berhari-hari, tapi tetap tidak serakah saat dapat bantuan
Kayu menumpuk jadi kendala, Gubernur Aceh ungkap Tim China sulit deteksi jenazah korban banjir
3 Jam jalan kaki demi beras dan BBM: Warga Bener Meriah kerubungi mobil pengangkut minyak di tengah akses terisolasi
Rumah warga masih berlumpur, truk sawit tetap konvoi: Desakan cabut izin perkebunan ilegal menguat di Aceh
Kontur jalan Aceh Tamiang masih ‘seperti agar-agar’, warga khawatir akses tak kunjung pulih pascabanjir
Akses terisolir tak surutkan aksi kemanusiaan Assyifa Peduli di Sumatera dan Aceh
Pilu korban banjir Aceh Tamiang berteduh di bawah terpal, seorang ibu mengaku tak butuh uang