Baca Juga: Prabowo luncurkan tema HUT ke-80 RI: Rakyat sejahtera jadi tolak ukur kemerdekaan sejati
Emak hanya mengangguk sambil mengelap meja patah di ujungnya. “Mungkin mereka ingin tahu apakah kita masih makan nasi, bukan batu bata,” katanya, setengah bercanda.
Bapak hanya menambahi, “Harus bersih. Harus rapi. Jangan ada yang jatuh.” Kalimat itu terdengar lebih seperti mantra daripada instruksi.
Kami membungkus nasi seperti membungkus luka sejarah. Telur balado kami poles hingga pantulannya mampu menggoda malaikat.
Sambal goreng kentang kami takar layaknya RAPBN, teliti, penuh kehati-hatian yang mencurigakan.
Baca Juga: Menkumham tegaskan eks TNI AL Satria Arta kehilangan status WNI jika terbukti jadi tentara asing
Bahkan kerupuk, yang biasanya dilempar asal, kali ini kami tegakkan seperti barisan veteran yang tak pernah disebut dalam pidato.
“Lim, pelan-pelan. Jangan tumpah. Ini bukan buat manusia biasa,” ujar Mak sambil tersenyum kecut.
Kami masuk dari pintu belakang rumah itu. Disambut satpam berperut prestasi yang mengangguk tanpa ekspresi, seperti patung demokrasi kehilangan pedestal.
Ruangan di dalamnya dingin, aroma parfumnya menyengat seperti ambisi.
Baca Juga: Gunung Marapi erupsi, kolom abu capai 1.600 meter dan warga diminta jauhi radius 3 km
Di ruang makan, meja panjang berlapis taplak mewah dikelilingi pria bersafari dan perempuan berkebaya mahal.
Mereka tertawa lirih, membahas sesuatu yang tak pernah mereka cicipi: kemiskinan.
“Tingkat kemiskinan turun, Pak. Tinggal sembilan persen,” ucap seorang perempuan sambil menyendok sup. “Ini luar biasa.”
Bapak meletakkan kotak-kotak nasi seperti sedang menyusun batu nisan bagi harapan yang gugur. Aku ingin bertanya, sembilan persen yang mana, Bu? Di kampung kami, angka lapar tak pernah turun.
Artikel Terkait
Bagaimana memulai ide menulis? panduan bagi penulis sastra
Sinopsis novel 'Sang Tokoh' karya Wina Armada Sukardi
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer
Sinopsis buku 'Islam dan Sosialisme' karya HOS Tjokroaminoto
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'