“Kakekmu dulu jualan tahu,” lanjut Bapak. “Pernah ditanya ‘Kenapa tetap miskin, Pak?’ Kakek jawab: mungkin karena aku cuma jual tahu, bukan janji.”
Aku tertawa kecil. Tapi Bapak tidak ikut tertawa. Ia hanya menatap kosong ke luar jendela.
“Orang miskin itu bukan cuma lapar,” katanya. “Tapi ditonton saat lapar. Dijadikan angka. Disalami saat kampanye, lalu dilupakan saat makan siang.”
Baca Juga: Uang pedagang kecil disikat oknum, Polres Subang tak tinggal diam
Dan aku bertanya dalam hati, kalau negara ini ada di atas meja makan, kenapa kami selalu di bawahnya, menghidang, tapi tak diundang makan?
Keesokan harinya, warung kami kembali buka. Tapi suasana tak lagi sama. Bapak lebih diam, Mak lebih sering melamun, dan aku menyendok nasi dengan hati yang belum selesai mencerna ironi.
Beberapa jam kemudian, sebuah mobil dinas berhenti di depan warung. Seorang lelaki berseragam cokelat turun, menyodorkan map berisi undangan resmi 'Pendataan UMKM Inspiratif untuk Program Nasional Pengentasan Kemiskinan.'
“Bapak diminta hadir,” katanya, “dan mewakili semangat rakyat kecil yang ulet dan tangguh.”
Baca Juga: Posyandu harus jadi garda terdepan layanan kesehatan keluarga, tegas Ketua TP PKK Subang
Bapak menatap surat itu lama. Seolah membaca kalimat yang tak tertulis.
“Lim,” bisiknya kemudian, “kenapa yang miskin malah diminta berbicara untuk menutupi suara yang lebih miskin lagi?”
Hari undangan itu tiba. Kami naik ojek menuju gedung pertemuan yang dingin dan mewah.
Di langit-langit, lampu kristal menggantung diam terlalu terang untuk menyinari kenyataan. Kami disambut senyum manis, segelas teh manis, dan pidato yang tak kalah manis.
“Selamat datang para pejuang UMKM!” seru MC. “Mari kita sambut narasumber utama kita, bapak Nurhasim.”
Baca Juga: Lawan rentenir, Menteri PKP dan Gubernur Jabar dorong skema kredit rumah ringan untuk warga desa
Artikel Terkait
Bagaimana memulai ide menulis? panduan bagi penulis sastra
Sinopsis novel 'Sang Tokoh' karya Wina Armada Sukardi
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer
Sinopsis buku 'Islam dan Sosialisme' karya HOS Tjokroaminoto
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'