Baca Juga: Lovina dan Medewi Festival siap gairahkan pariwisata Bali Barat Juli ini
Tapi mulutku terkunci oleh pendingin ruangan dan kenyataan bahwa kami hanyalah tukang antar.
Di dapur, aku melihat beberapa nasi masih utuh.
“Ini nggak dimakan?” tanyaku pada satpam.
“Biasalah, Mas. Buat formalitas aja,” jawabnya sambil mengangkat bahu, seolah memikul dosa orang lain.
Aku bawa satu kotak pulang. Di gang, anak-anak tetap bermain dengan celana bolong, ibu-ibu menyuapi anak dengan air gula, dan seekor kucing menciumi plastik nasi yang masih hangat.
Saat kubuka kotak itu di meja reyot kami, aromanya lezat, tampilannya menggoda. Tapi terasa pahit di lidah, bukan karena cabai, tapi karena isinya, simbol sandiwara.
Malamnya, bapak duduk diam menatap jalanan yang basah oleh hujan dan kebingungan.
“Mereka bilang mau entaskan kemiskinan,” gumamnya, “tapi apa mereka pernah benar-benar lihat wajahnya?”
Tangannya menggenggam gelas teh tubruk dingin seperti nasib kami.
“Kenapa kita tetap diam, Pak?” tanyaku pelan.
Baca Juga: Gas 3 kg digelapkan, kerugian ratusan juta: Polres Subang bekuk sindikat 'tabung siluman'
Ia menghela napas panjang. “Karena di negeri ini, kadang bersuara lebih berbahaya dari lapar.”
Aku terdiam. Angin malam menyusup seperti berita buruk.
Artikel Terkait
Bagaimana memulai ide menulis? panduan bagi penulis sastra
Sinopsis novel 'Sang Tokoh' karya Wina Armada Sukardi
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer
Sinopsis buku 'Islam dan Sosialisme' karya HOS Tjokroaminoto
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'