CERPEN: Sujud mantra di Masjid Amir Hamzah

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 11 Juli 2025 | 23:52 WIB
Ilustrasi - Sujud mantra di Masjid Amir Hamzah
Ilustrasi - Sujud mantra di Masjid Amir Hamzah

"Sedang mencari frekuensi wahyu, Irzi?" tanyaku.

"Justru sedang menyelaraskan frekuensi hati dengan frekuensi alam semesta," jawabnya sambil terkekeh pelan.

"Saya sedang menciptakan puisi tanpa suara yang hanya bisa didengar oleh hati yang bersih. Lebih transformatif, kan?"

Sutardji Calzoum Bachri tiba-tiba mengangkat tangannya ke atas. "Wahyu! Kutemukan kiasan tentang takdir yang tak terhindarkan! 'Langit... berbisik... janji... dalam... hembusan... angin... yang... tak... terlihat!'"

Baca Juga: Padel hingga biliar, ini daftar 21 olahraga komersial yang dipajaki di Jakarta

Beliau langsung menorehkannya di lembaran kosong yang tiba-tiba muncul di tangannya.

Ketua Komite Sastra DKJ menghela napas yang panjang, namun kini lebih karena takjub. "Sungguh, begini nih kalau kita membiarkan diri menjadi bejana atau tempayan bagi kebenaran Ilahi. Tak ada lagi batasan akal."

Kunni Masrohanti menatapku. "Justru di situlah letak keindahan dan misteri dunia ini, Gus. Kita semua adalah alat, perantara, bagi pesan-pesan yang lebih besar."

Irzi memetik senar dari alat musik yang tak terlihat, menghasilkan bunyi "nur... ilahi... sujud... taubat...".

"Nah, itu dia simfoni pencarian kebenaran! Judulnya 'Bisikan Hati yang Tak Pernah Dusta'."

Baca Juga: Netanyahu calonkan Donald Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian 2025

Aku merasa seperti berada di tengah sebuah majelis para wali dan pewaris risalah, di mana setiap kata, setiap isyarat, adalah petunjuk menuju sebuah realitas yang lebih agung.

Aku masih samar-samar mengingat pria penjual 'udara murni' dan wanita penyulam jaring laba-laba dari ceritaku sebelumnya, mereka tampak berlutut, mendengarkan dengan khusyuk, seolah kini mereka pun telah menemukan makna dari eksistensi mereka.

Aku kembali menemukan warung kopi itu, namun kini bukan lagi sekadar warung, melainkan Kedai Hikmah, tempat di mana setiap tegukan adalah pencerahan.

Barista berkumis tanda tanya menyodorkan secangkir 'Kopi Kifayah', yang aromanya memenuhi ruangan dengan ketenangan batin.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X