Lalu, dari sudut tenda, dengan anggun muncul Baroness von Bloviate, perwakilan dari Uni Eropa yang mengenakan gaun malam megah dan membawa cangkir teh porselen.
Baca Juga: Menlu Sugiono akui kekosongan Dubes di sejumlah negara, janji segera setor nama ke DPR
Gaunnya, yang entah kenapa tetap bersih di tengah debu, memantulkan sisa-sisa lampu operasi. Ia sibuk mengipas-ngipasi dirinya dengan dokumen tebal bertuliskan 'Resolusi Kecaman Bersyarat.'
"Kita harus mengutuk kekerasan," Baroness berbisik, suaranya seperti desiran sutra, "tapi dengan kehati-hatian diplomatik yang ekstrem, tentu saja.
Ada 'kepentingan strategis' yang lebih besar dari sekadar nyawa, bukan?" Ia melirik ke luar tenda, ke arah bayangan ambulans yang hangus, dan menambahkan, "Ini menyedihkan, sungguh. Tapi... apa boleh buat?"
Tiba-tiba, pintu tenda terbuka. Bukan angin yang menggesernya, melainkan sebuah troli makanan rumah sakit yang berderit.
Baca Juga: Nurmala Kartini calon Dubes Jepang, pernah wakili RI di 3 negara Amerika Selatan
Di atasnya, bukan makanan, melainkan tumpukan kaki palsu, lengan buatan, dan mata kaca. Dan di belakang troli itu, muncul seorang gadis kecil, sekitar delapan tahun, dengan selimut tipis melilit tubuhnya.
Matanya adalah dua lubang hitam yang tak terhingga, tapi di bibirnya tersungging senyum yang aneh, penuh ironi.
"Selamat datang di 'Klinik Absurditas'," kata gadis itu, suaranya jernih tapi dingin. "Kami punya 'hadiah' untuk Anda semua."
Donnie 'The Dealmaker' Trump mengerutkan dahi. "Hadiah? Is it gold? Or a golf course?"
Baca Juga: Timnas Putri gagal ke Piala Asia 2026, Erick Thohir: Publik harus sabar, bangun tim perlu waktu
Gadis itu menunjuk troli dengan dagunya. "Ini adalah sisa-sisa yang tertinggal. Kaki yang hilang, lengan yang melambai, mata yang tak lagi melihat.
Kami pikir, Anda, para 'arsitek pembangunan kembali', mungkin membutuhkannya untuk 'melengkapi' proyek Anda."
Benny 'The Butcher' menatap troli itu dengan jijik. "Ini... ini bukan bagian dari 'protokol pembersihan wilayah'."
Artikel Terkait
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
CERPEN: Duel drone di langit Haifa
CERPEN: Kupu-kupu hitam di langit Teheran
CERPEN: Kaca pecah di Negev
CERPEN: Perang 12 hari