Angin gurun Negev, pada hari Jumat, akhir Juni 2025 itu, tidak lagi membawa pasir, melainkan bisikan dari mimpi-mimpi yang pecah.
Di tengah kemelut yang membayangi, perang total antara Iran dan Israel, dengan Amerika Serikat sebagai penari tak diundang, telah dimulai.
Namun, ini bukan perang seperti yang tercatat dalam buku sejarah, melainkan simfoni surealis dari pikiran-pikiran yang memimpinnya.
Di sebuah bunker bawah tanah yang remang-remang di suatu tempat di Teheran, Ayatollah Ali Khamenei duduk di singgasana batu yang diukir kasar, bukan memimpin strategi, melainkan melukis.
Kuasnya bergerak di atas kanvas raksasa yang tergantung di depannya, menciptakan lanskap yang berubah-ubah: gurun yang melengkung menjadi ombak, gunung yang melarut menjadi tetesan air mata, dan langit yang berdarah jingga dari ledakan yang tak terlihat.
Ia menganggap setiap ledakan di kejauhan sebagai sentuhan cat yang dibutuhkan untuk menyempurnakan mahakaryanya.
"Mereka pikir ini tentang minyak, tentang rudal," gumamnya pada dirinya sendiri, sambil menambahkan sapuan warna biru yang tiba-tiba muncul di cakrawala.
"Bodoh. Ini tentang simfoni. Simfoni takdir yang dimainkan oleh pecahan kaca." tambahnya.
Baca Juga: KDM di Subang: Bangun karakter siswa, reformasi birokrasi jangan bergantung APBD
Sementara itu, ribuan mil jauhnya, di Oval Office yang entah bagaimana kini mengambang di atas Laut Mati, Donald Trump sibuk dengan gumpalan tanah liat.
Ia mengenakan mahkota keemasan yang miring dan jubah beludru yang kebesaran. Dengan jari-jemarinya yang besar, ia membentuk patung-patung kecil dari para pemimpin dunia, Syaikh Khamenei, Netanyahu, bahkan dirinya sendiri, lalu melemparkan mereka satu per satu ke dalam sebuah mangkuk berisi jeli oranye.
Setiap percikan jeli di mangkuk itu, baginya, adalah representasi langsung dari serangan dan balasan yang terjadi di medan perang.
"Lihat!" serunya kepada cermin yang memantulkan bayangan dirinya sepuluh kali lipat.
Artikel Terkait
Pulo Lasman Simanjuntak berikan tanda tangan simbolik pada buku antologi puisi penyair perempuan Indonesia
Puisi : Episode 'Hujan, Desember 2020
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Puisi-puisi pilihan Soe Hok Gie: Suara sunyi yang tak pernah padam
Sinopsis buku antologi puisi 'Gemuruh Palung Hati' karya Ai Lundeng
CERPEN: Duel drone di langit Haifa
CERPEN: Kupu-kupu hitam di langit Teheran