Di luar, matahari Gaza mulai terbenam, memancarkan warna-warna suram di atas kehancuran.
Di dalam tenda merah muda yang aneh itu, kekacauan berlanjut, diselingi teriakan para pemimpin dunia yang dikejar oleh potongan-potongan tubuh plastik dan kaca.
Sebuah orkestra absurditas yang memilukan, di mana bisikan-bisikan keadilan yang terabaikan akhirnya menemukan suaranya melalui benda mati.
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Artikel Terkait
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
CERPEN: Duel drone di langit Haifa
CERPEN: Kupu-kupu hitam di langit Teheran
CERPEN: Kaca pecah di Negev
CERPEN: Perang 12 hari