Sebuah papan pengumuman ditancapkan di atas puing-puing bangunan:
'Segera dibangun Klinik Absurditas di Reruntuhan'
Matahari Gaza, kini seperti bola mata buta yang bengkak, memuntahkan panas ke atas reruntuhan. Bau antiseptik bercampur dengan debu, menciptakan aroma melankolis yang menempel di lidah.
Di antara sisa-sisa tembok yang menganga dan ranjang rumah sakit yang bengkok, sebuah tenda militer yang aneh, berwarna merah muda cerah, tiba-tiba muncul.
Baca Juga: Padel kena pajak hiburan 10 persen, Pramono Anung: Rata-rata pemainnya mampu
Di dalamnya, sebuah 'pertemuan puncak' sedang berlangsung.
Di meja operasi yang berkarat, duduklah Benny the Butcher (julukan baru untuk Netanyahu, lengkap dengan celemek tukang daging yang entah dari mana asalnya).
Ia sibuk mengutak-atik sebuah boneka kain compang-camping yang disebutnya 'Model Demografi Strategis.'
"Lihat," Benny menggerutu, jarinya menunjuk kepala boneka yang robek, "ini adalah masalah populasi yang harus 'diatur'. Kita butuh bedah presisi."
Di seberangnya, Donnie 'The Dealmaker' Trump (dengan topi 'Make America Great Again' yang kini bertuliskan 'Make Gaza Great Again... for somebody else') sedang mencoba membangun menara dari botol infus kosong.
Setiap kali menaranya roboh, ia akan berteriak, "Fake News! The best towers, believe me!" ke arah debu yang beterbangan.
"Ini semua tentang real estate, Benny," Donnie mendengus, mengabaikan omelan Benny. "Potensi properti yang luar biasa! Bayangkan, hotel-hotel di atas puing! Kita bisa beri nama 'Trump Tower of Tears'."
Artikel Terkait
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
CERPEN: Duel drone di langit Haifa
CERPEN: Kupu-kupu hitam di langit Teheran
CERPEN: Kaca pecah di Negev
CERPEN: Perang 12 hari