Baroness von Bloviate menutup hidungnya. "Oh, betapa... primitif. Apakah ini semacam metafora untuk 'kerugian kolateral'?"
Gadis itu terkekeh, tawa yang tak memiliki humor. "Bukan metafora, Nyonya. Ini kenyataan yang Anda kubur di bawah laporan-laporan tebal dan pidato-pidato kosong Anda."
Baca Juga: Cristiano Ronaldo berduka atas meninggalnya Diogo Jota: Baru saja kita main bersama
Lalu, sesuatu yang lebih absurd terjadi. Kaki-kaki palsu di troli itu mulai bergerak sendiri, menendang-nendang.
Lengan-lengan buatan melambai-lambai, dan mata-mata kaca berkedip-kedip, menatap lurus ke arah para pemimpin. Tiba-tiba, mereka melompat dari troli, mengejar Benny, Donnie, dan Baroness.
"Ini tuntutan!" teriak sebuah kaki palsu, melompat dan mendarat di bahu Benny 'The Butcher'. "Kami menuntut kesehatan yang utuh, bukan amputasi!"
"Kami menuntut rumah, bukan reruntuhan untuk hotel Anda!" sebuah lengan buatan melingkar di leher Donnie 'The Dealmaker', mencekik dasinya.
"Kami menuntut keadilan, bukan resolusi yang tak bertaring!" sebuah mata kaca menggelinding dan berhenti tepat di kaki Baroness von Bloviate, menatapnya dengan pandangan kosong tapi menuduh.
Baca Juga: Wuling Air EV terbakar di Bandung, netizen geruduk Instagram resmi: Mobil listrik kebakar tuh, min!
Benny 'The Butcher' berusaha melepaskan kaki palsu itu, wajahnya memerah. "Ini serangan! Serangan teroris! Mereka menggunakan... prostetik!"
Donnie 'The Dealmaker' tercekik, terbatuk-batuk. "My beautiful tie! This is unfair! Sad!"
Baroness von Bloviate menjerit melengking, gaunnya tersangkut di reruntuhan. "Protokol... ini tidak ada dalam protokol!"
Gadis kecil itu hanya berdiri di ambang pintu tenda, menatap pemandangan kacau itu. Ia mengeluarkan sebuah spidol dan di dinding tenda, tepat di bawah tulisan "Klinik Absurditas," ia menulis:
"OBAT TERBAIK UNTUK GENOSIDA ADALAH KEADILAN. DAN PARA DOKTERNYA? BUKAN KALIAN, TAPI PARA KORBAN."
Artikel Terkait
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
CERPEN: Duel drone di langit Haifa
CERPEN: Kupu-kupu hitam di langit Teheran
CERPEN: Kaca pecah di Negev
CERPEN: Perang 12 hari