Persoalannya, siapa yang mampu punya? Kalau modal masuknya sangat besar, tentu bukan sebagian besar UMKM.
Baca Juga: 10 Perjalanan KRL Bogor sempat terlambat 1 jam usai insiden kecelakaan di jalur Pasming-Manggarai
Jangan hanya jadikan UMKM supplier
UMKM memang bisa dilibatkan sebagai pemasok. Petani memasok sayur, peternak memasok telur dan ayam, pelaku usaha lokal memasok berbagai kebutuhan dapur. Bagus. Tetapi menurut saya belum cukup.
MBG jangan hanya membeli dari rakyat. MBG harus memberikan kesempatan agar rakyat juga menjadi pelaku usahanya.
Kalau kapasitas 3.000 porsi dipecah menjadi enam unit 500 porsi, kesempatan pengelolaannya pun bisa menyebar.
Katering lokal bisa masuk. Kantin sekolah bisa naik kelas. Koperasi dan BUMDes bisa terlibat. Kelompok usaha masyarakat dan pengusaha muda daerah juga mempunyai peluang.
Jadi yang dibagi bukan hanya porsi makanannya. Kesempatan ekonominya juga dibagi.
Kepemimpinan baru, saatnya ubah paradigma
Karena itu pergantian kepemimpinan BGN seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi arsitektur MBG secara lebih fundamental.
Jangan hanya mencari dapur fiktif, menutup SPPG bermasalah, atau menambah aturan dan sertifikasi. Semua itu perlu, tetapi belum cukup.
Kalau keracunan terus terjadi, evaluasi skala produksinya. Kalau UMKM sulit masuk, evaluasi kebutuhan modalnya. Kalau manfaat ekonomi terkonsentrasi, ubah model distribusi kesempatan usahanya.
Saya membayangkan MBG ke depan tidak identik dengan dapur besar yang memproduksi ribuan porsi, tetapi dengan banyak dapur lebih kecil yang tersebar dekat sekolah, dikelola masyarakat lokal, diawasi dengan standar nasional, dan sebanyak mungkin menggunakan bahan baku dari wilayah sekitar.