Islam mengajarkan silaturahmi agar manusia dapat saling mendekat. Tetapi dalam dunia materialistis, kedekatan sering kali hanya berlaku bagi mereka yang dianggap setara dalam status dan kepentingan.
Baca Juga: Lava walk, roda tank hingga tarik tambang, Kemenag Subang ramaikan HUT ke-81 RI
Bangsawan bersilaturahmi dengan bangsawan, hartawan dengan hartawan, intelektual dengan intelektual, dan penguasa dengan mereka yang memiliki pengaruh.
Seseorang akan mengidentifikasi orang lain terlebih dahulu, layakkah ia menjadi tamu, teman, atau masuk dalam daftar undangan?
Orang akan disepelekan ketika berbicara tentang ilmu hanya karena ia bukan berasal dari kampus bonafide.
Pemimpin sulit ditemui oleh orang sembarangan, tetapi pintunya terbuka lebar bagi mereka yang memiliki pengaruh politik, modal, jabatan, atau jaringan.
Baca Juga: Pembayaran digital Perumda Tirta Rangga Subang melonjak, dari 40 persen kini capai 83 persen
Al-Qur'an telah mengingatkan dalam QS. Al-Hadid ayat 20 bahwa kehidupan dunia adalah permainan dan senda gurau, perhiasan, bermegah-megahan, berbangga-bangga, serta berlomba dalam memperbanyak harta dan pengikut.
Dalam sistem kekuasaan material, seseorang yang berintegritas dan berilmu belum tentu dapat menjadi pemimpin jika tidak memiliki uang untuk kampanye, sosialisasi, dan berbagai kebutuhan politik.
Tidak cukup sampai di situ, ia juga harus memiliki jejaring tokoh yang memiliki banyak pengikut dan pengaruh.
Pada akhirnya, yang menentukan bukan lagi siapa yang paling layak memimpin, tetapi siapa yang paling mampu menguasai akses menuju kekuasaan.
Inilah salah satu penyebab mengapa pada akhir zaman, pemimpin yang tercipta semakin jauh dari kepemimpinan yang fitrah.
Feodalisme mungkin telah kehilangan istana dan mahkotanya, tetapi ia bisa tetap hidup dalam cara kita memandang manusia, berdasarkan harta, gelar, jabatan, pengaruh, dan jumlah pengikutnya.
Kundrat Kanda Permana, Cendikiawan muda dan pemerhati sosial