esai

ESAI: Sebuah upaya mengembalikan hati ke pusat peradaban

Jumat, 20 Februari 2026 | 18:12 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Perbincangan saya dengan seseorang yang saya sebut kang mas ustad bermula dari satu pertanyaan sederhana, apa kegelisahan terbesar hari ini?

Ia tidak menjawab dengan data statistik, tidak pula dengan teori konspirasi. Ia menjawab dengan lirih, “Hati manusia sedang retak.”

Retak itu tidak terdengar, tetapi terasa. Ia menjalar dari ruang keluarga, ke ruang kelas, hingga ke ruang-ruang kekuasaan.

Kita hidup dalam zaman yang tampak maju secara teknologi, namun menyusut secara batin. Hubungan antarmanusia terasa seperti protokol, sopan, tetapi kosong, formal, tetapi tanpa simpati.

Baca Juga: Bocah di Aceh tengah menangis, sekolah tertimbun lumpur pasca banjir dan longsor

Fenomena ini bukan sekadar keluhan moral. Ia memiliki akar filosofis dan sosiologis. Erich Fromm pernah mengingatkan dalam To Have or To Be? bahwa manusia modern terjebak dalam orientasi 'memiliki' alih-alih 'menjadi'.

Ia menulis, “Jika aku adalah apa yang aku miliki, dan apa yang aku miliki hilang, siapakah aku?” Pertanyaan itu menggetarkan.

Ketika nilai diri ditentukan oleh kepemilikan material, maka relasi antar manusia berubah menjadi transaksi. Orang tidak lagi hadir sebagai jiwa, tetapi sebagai fungsi.

Orientasi materialistik yang berlebihan, sebagaimana juga dikritik oleh Max Weber dalam analisisnya tentang rasionalitas modern, melahirkan 'sangkar besi' rasionalitas instrumental.

Baca Juga: Viral bocah di Majalaya Bandung selalu bawa pulang makanan dari masjid untuk neneknya

Segala sesuatu diukur oleh efisiensi dan keuntungan, termasuk hubungan antarmanusia.

Dalam keluarga, suami dan istri lebih intim dengan layar telepon genggam daripada dengan tatapan mata satu sama lain. Anak dan orang tua duduk dalam satu ruang, tetapi terpisah oleh dunia yang tak kasatmata.

Di sekolah, guru dan murid terjebak dalam kurikulum administratif, relasi pedagogis kehilangan sentuhan kehangatan. Pendidikan menjadi distribusi informasi, bukan transmisi kebijaksanaan.

Padahal Aristoteles dalam Etika Nikomakea menegaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah eudaimonia, kebahagiaan yang bermakna, yang hanya tercapai melalui kebajikan dan relasi yang baik.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB