esai

ESAI: Pembebasan Edan Alexander dan peluang gencatan senjata di Gaza

Selasa, 13 Mei 2025 | 16:21 WIB
Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia

Pembebasan Edan Alexander (12 Mei 2025), warga negara ganda AS-Israel dan tentara yang ditawan Hamas, bukan hanya peristiwa politik, tetapi juga mencerminkan dinamika kekuasaan, simbolisme, dan negosiasi identitas dalam konteks konflik asimetris yang berkepanjangan.

Tindakan tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari ‘negosiasi kekuasaan’ kelompok perlawanan terhadap kelompok pendudukan yang didukung oleh kekuasaan besar.

Berbagai media memberitakan peristiwa itu. Dalam berita 'Edan Alexander Release' di CBN News misalnya mengatakan bahwa ‘ini adalah great day’ bagi AS.

Baca Juga: Sinopsis buku antologi puisi 'Gemuruh Palung Hati' karya Ai Lundeng

Hamas melepaskan Alexander sebagai ‘gestur niat baik’ kepada Presiden AS Donald Trump dalam ‘Middle east tour’ (ke Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab) di tengah ‘ketegangan’ antara Trump dan Netanyahu di awal Mei 2025.

Edan Alexander, yang diyakini sebagai warga negara AS terakhir yang masih hidup dan disandera di Gaza selama lebih dari 19 bulan.

Peristiwa tersebut adalah contoh bagaimana aktor non-negara (non-state actors) yang dalam hal ini gerakan perlawanan (resistance group) menggunakan simbol kemanusiaan (seorang sandera) untuk untuk memperkuat negosiasi politik.

Di sisi lain, Israel tidak menunjukkan komitmen terhadap gencatan senjata meskipun menerima kembali tentaranya.

Baca Juga: ESAI: Menemukan makna kehidupan ala Hector Garcia dan Francesc Miralles

Seperti yang dikutip dari pernyataan pemerintah Israel, “tidak ada imbalan apa pun, tidak ada pembebasan tahanan Palestina, tidak ada jeda dalam pertempuran.”

Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana kekerasan dipertahankan Israel sebagai sarana kontrol teritorial dan simbolik terhadap wilayah dan musuh.

Kita melihat bahwa Gaza saat ini telah bertransformasi sebagai ‘ruang sosial yang terkepung’ di mana populasi sipil menjadi korban dari permainan kekuasaan yang asimetris antara ‘yang besar’ (Israel) melawan ‘yang kecil’ (Palestina).

Gaza saat ini tidak hanya menjadi medan perang fisik, tetapi juga medan perang simbolik yang mencerminkan kegagalan sistem internasional dalam melindungi hak-hak dasar manusia.

Baca Juga: Satres Narkoba Polres Subang amankan 54 botol miras dalam operasi di Jalan Raya Cibogo

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB