Berbagai lembaga internasional, termasuk yang terbaru dari Komite Internasional Palang Merah (ICRC) telah menegaskan pentingnya gencatan senjata permanen, dengan menyatakan bahwa “mimpi buruk ini terus berlanjut bagi para sandera yang tersisa… dan ratusan ribu warga sipil di seluruh Gaza.”
Seruan ini menunjukkan bahwa penderitaan manusia haruslah segera diakhiri segera mungkin.
Pembebasan Alexander bukan akhir, melainkan sebagai pengingat bahwa perang ini harus segera dihentikan dan tahanan—baik dari orang Israel atau Palestina—haruslah dilepaskan.
Dalam perang asimetris tersebut, warga sipil menjadi objek bukan subjek dari narasi perdamaian.
Baca Juga: Remaja dibacok di Pamanukan, polisi gerak cepat ringkus pelaku dan sita 5 sajam
Sementara itu, respons keluarga sandera lainnya yang menyalahkan Netanyahu karena dianggap lebih mementingkan kekuasaan politik daripada pembebasan sandera.
Pandangan itu seiring-sejalan dengan Faisal Abbas, editor in chief Arab News, kepada BBC News (13 Mei 2025), mengatakan bahwa ‘kepemimpinan Netanyahu telah memberi ketidakamanan bagi Israel, bahkan membuat lebih parah.’ Hal itu harus menjadi perhatian serius bagi internal Israel tentu saja.
Dalam rilis sandera di atas, kita juga melihat dimensi global dari peristiwa tersebut. Dalam diplomasi sandera, kekuatan seperti AS, Qatar, dan Mesir terlibat sebagai mediator.
Namun, motif mereka lebih terlihat dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan stabilitas regional yang singkatnya ‘memilih berhati-hati’.
Baca Juga: Perang dagang AS vs China, Paman Sam dan Negeri Tirai Bambu kini sepakat pangkas tarif impor
Sebab, salah langkah sangat mungkin bisa berdampak destruktif lebih luas, apalagi dunia sekarang ini terlihat masih berada dalam ketidakpastian global (global uncertainty).
Tapi, kita mendukung agar segala diplomasi—sekecil apapun itu—untuk perdamaian di Palestina dapat terwujudkan.
Tragedi Gaza dan pembebasan sandera seperti Edan Alexander tidak bisa dibaca sebagai insiden individual, melainkan sebagai bagian dari sistem kekuasaan global yang tidak adil.
Akibatnya, berbagai kekuatan—‘yang besar’ dan ‘yang kecil’—pun bersiasat untuk menggunakan tubuh manusia sebagai negosiasi demi kepentingan perjuangan.
Artikel Terkait
Pengakuan Prabowo minta dukungan evakuasi warga Gaza ke Timur Tengah: Rumit, tapi RI peduli Palestina
Sempat tolak wacana relokasi, kini Menlu Sugiono diutus ke Palestina demi evakuasi warga Gaza ke RI
Karena alasan kemanusiaan, Prabowo siap terima 1.000 orang dari Gaza ditampung di Indonesia
Evakuasi warga Gaza oleh Indonesia hanya bersifat sementara, Prabowo minta persetujuan semua pihak
Pesan paskah terakhir Paus Fransiskus sehari sebelum meninggal dunia, serukan gencatan senjata di Gaza
Momen Aksi Bela Palestina di Kedubes AS, terbentang spanduk bergambar buah semangka: Tanda solidaritas RI untuk Gaza
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'