ESAI: Pembebasan Edan Alexander dan peluang gencatan senjata di Gaza

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Selasa, 13 Mei 2025 | 16:21 WIB
Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia
Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia

Berbagai lembaga internasional, termasuk yang terbaru dari Komite Internasional Palang Merah (ICRC) telah menegaskan pentingnya gencatan senjata permanen, dengan menyatakan bahwa “mimpi buruk ini terus berlanjut bagi para sandera yang tersisa… dan ratusan ribu warga sipil di seluruh Gaza.”

Seruan ini menunjukkan bahwa penderitaan manusia haruslah segera diakhiri segera mungkin.

Pembebasan Alexander bukan akhir, melainkan sebagai pengingat bahwa perang ini harus segera dihentikan dan tahanan—baik dari orang Israel atau Palestina—haruslah dilepaskan.

Dalam perang asimetris tersebut, warga sipil menjadi objek bukan subjek dari narasi perdamaian.

Baca Juga: Remaja dibacok di Pamanukan, polisi gerak cepat ringkus pelaku dan sita 5 sajam

Sementara itu, respons keluarga sandera lainnya yang menyalahkan Netanyahu karena dianggap lebih mementingkan kekuasaan politik daripada pembebasan sandera.

Pandangan itu seiring-sejalan dengan Faisal Abbas, editor in chief Arab News, kepada BBC News (13 Mei 2025), mengatakan bahwa ‘kepemimpinan Netanyahu telah memberi ketidakamanan bagi Israel, bahkan membuat lebih parah.’ Hal itu harus menjadi perhatian serius bagi internal Israel tentu saja.

Dalam rilis sandera di atas, kita juga melihat dimensi global dari peristiwa tersebut. Dalam diplomasi sandera, kekuatan seperti AS, Qatar, dan Mesir terlibat sebagai mediator.

Namun, motif mereka lebih terlihat dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan stabilitas regional yang singkatnya ‘memilih berhati-hati’.

Baca Juga: Perang dagang AS vs China, Paman Sam dan Negeri Tirai Bambu kini sepakat pangkas tarif impor

Sebab, salah langkah sangat mungkin bisa berdampak destruktif lebih luas, apalagi dunia sekarang ini terlihat masih berada dalam ketidakpastian global (global uncertainty).

Tapi, kita mendukung agar segala diplomasi—sekecil apapun itu—untuk perdamaian di Palestina dapat terwujudkan.

Tragedi Gaza dan pembebasan sandera seperti Edan Alexander tidak bisa dibaca sebagai insiden individual, melainkan sebagai bagian dari sistem kekuasaan global yang tidak adil.

Akibatnya, berbagai kekuatan—‘yang besar’ dan ‘yang kecil’—pun bersiasat untuk menggunakan tubuh manusia sebagai negosiasi demi kepentingan perjuangan.

Baca Juga: AS-China sepakat tak lakukan pemisahan ekonomi total, redakan gejolak pasar global imbas kenaikan tarif impor

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X