Baca Juga: Malam takbiran, Polres Subang kerahkan 250 personel, imbau masyarakat agar perhatikan 5 hal ini
Takut mengakui bahwa kesedihan yang kita ekspresikan di media sosial hanyalah bagian dari konstruksi sosial yang ingin kita pertahankan.
Tapi, apakah salah untuk merasa lega? Apakah salah jika seseorang jujur mengatakan bahwa ia menikmati kembali kebebasan makan setelah Ramadan?
Atau, apakah kita telah begitu terkungkung dalam definisi kesalehan yang rigid, sehingga kejujuran justru dianggap sebagai dosa yang lebih besar daripada kemunafikan?
Maka, setelah semua pertanyaan ini, kita harus bertanya pada diri sendiri: Apa yang benar-benar kita cari dalam Ramadan? Kesucian yang otentik atau sekadar kesalehan yang tampak?
Apakah kita menjalani puasa untuk menemukan kebebasan, atau justru merasa lebih aman dalam keterikatan?
Dan ketika Ramadan telah berlalu, apakah kita benar-benar kehilangan sesuatu—atau justru kembali pada diri kita yang sebenarnya?***