Jalaluddin Rumi pernah berujar, "Lupakan apa yang mereka katakan tentangmu. Hidupmu adalah antara engkau dan Tuhanmu."
Namun, dalam realitas sosial, kesalehan bukan hanya hubungan vertikal dengan Tuhan; ia juga menjadi modal sosial yang diperjualbelikan dalam pergaulan manusia.
Di Indonesia, fenomena ini begitu tampak ketika seseorang merasa harus menunjukkan sisi religiusnya di ruang publik, tetapi di saat yang sama menyembunyikan kejujurannya.
Orang-orang yang selama bulan Ramadan begitu aktif membagikan hadis dan kata-kata mutiara, mendadak kembali ke pola hidup yang sama seperti sebelum Ramadan berlalu.
Baca Juga: 4 Ide hadiah yang cocok untuk teman di momentum lebaran 2025, salah satunya voucher belanja
Ritual tahunan ini seperti teater yang dimainkan berulang-ulang—sebuah panggung sandiwara seperti yang digambarkan oleh Erving Goffman dalam The Presentation of Self in Everyday Life.
Mengapa tidak jujur saja? Mengapa harus membungkus keinginan makan siang di siang hari dengan kata-kata penuh ratapan?
Apakah takut dianggap tidak cukup saleh? Ataukah ini hanya refleksi dari kegamangan manusia yang selalu ingin terlihat lebih baik daripada yang sebenarnya?
Prof. Djoko Saryono pernah berkata bahwa hidup seharusnya meluaskan hati dan melapangkan pandangan, bukan sekadar menjaga (membatasi) hati dan pikiran.
Ini adalah pernyataan yang menohok dalam konteks perdebatan antara ibadah sebagai kedisiplinan dan ibadah sebagai pengalaman spiritual yang membebaskan.
Ada kecenderungan di kalangan tertentu untuk melihat agama sebagai sesuatu yang penuh batasan. Tidak boleh ini, haram itu, makruh yang lain.
Ramadan pun seringkali dipahami dalam kerangka yang sama: sebuah masa di mana kebebasan dikekang, keinginan ditahan, dan larangan menjadi tajuk utama. Namun, bukankah agama yang sejati adalah agama yang memperluas kesadaran?
Alih-alih memandang Ramadan hanya sebagai momen menahan diri, mengapa tidak melihatnya sebagai ruang bagi transformasi intelektual dan emosional?