Di penghujung Ramadan, linimasa kita dipenuhi rintihan perpisahan. "Ya Allah, pertemukan kami kembali dengan Ramadan tahun depan," tulis seseorang dengan latar belakang langit senja dan lampu-lampu masjid yang temaram.
Yang lain menuliskan, "Sedih sekali, Ramadan berlalu begitu cepat!" dengan tambahan emoticon menangis. Namun, benarkah kesedihan itu nyata? Ataukah ia sekadar perayaan performatif yang lahir dari keharusan sosial untuk tampak saleh?
Bukankah lebih jujur jika seseorang berkata, "Alhamdulillah bulan Ramadan akan selesai di tahun ini, kita akan bebas makan seperti biasa"? Atau, justru kejujuran semacam itu dianggap sebagai bentuk kedangkalan spiritual?
Dalam tradisi pemikiran kritis, kita mengenal gagasan bahwa sesuatu yang benar-benar disukai tidak membutuhkan paksaan.
Friedrich Nietzsche dalam Jenseits von Gut und Böse (Beyond Good and Evil) menyinggung bagaimana moralitas sering kali dibangun bukan karena esensi kebajikan itu sendiri, melainkan karena mekanisme sosial yang mengontrol perilaku manusia.
Jika puasa begitu menyenangkan, mengapa ia diwajibkan? Jika orang sungguh-sungguh mencintai Ramadan, mengapa ia tak menangis setiap hari setelah bulan itu pergi, sebagaimana seseorang meratapi kepergian kekasih yang tak akan kembali?
Pertanyaan ini membawa kita ke satu refleksi yang lebih dalam: apakah kita sungguh beribadah karena cinta atau karena keterpaksaan?
Michel Foucault dalam Discipline and Punish menjelaskan bahwa institusi sosial dan agama sering kali bekerja sebagai panopticon, di mana individu terus merasa diawasi sehingga mereka menyesuaikan perilaku agar sesuai dengan norma yang diterima.
Baca Juga: 5 Jokes bapak-bapak yang lucu nan menggelitik perut untuk mencairkan suasana di momen lebaran 2025
Mungkin kesedihan yang diekspresikan di media sosial hanyalah manifestasi dari kebutuhan untuk terlihat taat.
Seperti yang dikatakan Jean Baudrillard dalam Simulacra and Simulation, kita hidup dalam dunia di mana realitas telah larut dalam representasi.
Kesedihan atas perginya Ramadan mungkin bukanlah kesedihan sejati, melainkan sebuah konstruksi sosial yang perlu dipertontonkan.
Dalam banyak budaya, agama menjadi ruang di mana kemunafikan tumbuh subur. Ini bukan semata-mata karena individu secara sadar ingin berpura-pura, melainkan karena eksistensi religiusitas dalam masyarakat sering kali lebih berkaitan dengan status sosial ketimbang keyakinan personal.