Baca Juga: Tepis tudingan DPR kebut revisi UU TNI di hotel, Sufmi Dasco: Tidak ada rapat diam-diam
Sartre pernah berkata bahwa manusia dikutuk untuk bebas, tetapi seberapa bebas seseorang jika pilihan-pilihannya telah ditentukan oleh hal-hal di luar kendalinya?
Jika usia, gender, dan jaringan sosial lebih berperan daripada kompetensi dan pengalaman, maka sejauh mana kita bisa mengklaim bahwa kita hidup dalam masyarakat yang meritokratis?
Barangkali, yang paling menyedihkan bukanlah bahwa diskriminasi ini terjadi, melainkan bahwa kita menerimanya sebagai sesuatu yang wajar.
Bapak itu akan pulang dengan kecewa, ibu itu akan tetap berjuang sendirian, sementara si pelamar yang memiliki koneksi akan terus melenggang tanpa hambatan. Begitulah kehidupan, kata banyak orang—tetapi haruskah memang demikian?
Mungkin, esai ini tidak bisa menawarkan solusi instan untuk problematika yang telah berakar selama puluhan tahun.
Namun, ini bisa mengajukan satu pertanyaan yang pantas kita tanyakan berulang kali: Apakah kita benar-benar ingin terus hidup dalam sistem yang tidak memberi ruang bagi keadilan?
Jika jawabannya tidak, maka perubahan harus dimulai dari kesadaran untuk tidak lagi membiarkan ketidakadilan ini menjadi sesuatu yang biasa.
Fileski Walidha Tanjung, Penulis